Alexandro Wibowo: Dari Pelajar, Pekerja Serabutan di Australia Hingga Jadi COO Sribu.com
- istimewa
Berkah Pengalaman Dari Negeri Kangguru
Setelah 12 tahun menimba ilmu dan pengalaman di Australia, Alexandro kembali ke Indonesia, membawa serta semangat baru untuk membangun sesuatu yang berdampak lebih luas.
Pengalaman berbisnis di Australia membentuk cara pandangnya tentang dunia usaha. Ia menyadari bahwa dasar dari semua bisnis sama yakni bagaimana menciptakan pendapatan yang melebihi pengeluaran. Namun, cara mencapainya berbeda, tergantung pada budaya dan sistem hukum di setiap negara.
“Di Australia itu perlindungan terhadap konsumennya sangat jelas dan tegas, hukumnya jelas. Jadi kalau keluar dari aturan, bisa jadi masalah,” ujar Alexandro.
Hal ini berbanding terbalik dengan budaya kerja di Indonesia yang masih sarat dengan rasa sungkan dan toleransi.
Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 2008, Alexandro membangun usahanya sendiri. Meski sempat mengalami jatuh bangun, ia menganggap proses tersebut sebagai pengalaman berharga. “Apa yang kita alami itu berproses, ada saja yang tidak sesuai dengan harapan. Tapi semua itu menjadi pelajaran,” ungkapnya.
Melalui perjalanan panjang ini, Alexandro akhirnya menemukan passion sejatinya yakni di dunia strategi, pemasaran digital, dan pengembangan produk.
Alexandro melihat adanya potensi besar dalam dunia kerja lepas atau freelance. Ia mencermati bahwa fenomena freelancer di Indonesia unik dan berkembang pesat, terutama di tengah situasi sulit seperti gelombang PHK dan pandemi COVID-19.
“Banyak yang melihat jadi freelancer itu enak, bisa kerja dari mana saja, di Bali sambil lihat sunset dan dibayar dolar. Tapi realitanya tidak sesederhana itu,” jelas Alexandro. Ia menekankan bahwa menjadi freelancer ibarat membangun usaha sendiri, harus bisa menjual, mengelola keuangan, hingga mengatur administrasi sendiri.
Alexandro membagi freelancer Indonesia ke dalam tiga kategori, pertama, Mereka yang butuh tambahan pendapatan. Kedua, Mereka yang menjadikan freelance sebagai profesi utama. Ketiga, Mereka yang sedang beralih profesi dan menjadikan freelance sebagai batu loncatan.
Menariknya, justru kategori ketiga ini yang paling sering menunjukkan perkembangan signifikan karena mereka gigih membangun portofolio agar dapat memasuki dunia profesional yang baru, terang Alexandro.
