Ilmuwan Yakin Temukan Obat Tuli Lima Tahun ke Depan
- iStock
VoxPop.co.id - Pasien penderita sistem pendengaran dalam telinganya bisa berbahagia. Sekelompok ilmuwan mengklaim telah menemukan terapi gen yang bisa menyembuhkan tuna rungu.
Mereka mengungkap bahwa teknik revolusioner telah terbukti bisa memperbaiki kesalahan DNA yang ada pada tikus yang telah dimodifikasi genetik. Tikus itu kini bisa mendengar kembali.
Secara terpisah, uji coba terapi gen yang sama juga dilakukan Novartis untuk bisa membantu penderita tuli sembuh kembali.
"Teknik ini masih membutuhkan peningkatan di sana sini, namun kami berharap uji coba klinis bisa langsung dilakukan dalam kurun 5 sampai 10 tahun ke depan," ujar Jeffrey Holt dari Boston Children, seperti dikutip dari Mail Online, Kamis 9 Juli 2015.
Cara kerja para ilmuwan melibatkan seekor tikus yang telah dimutasi mengalami kerusakan pendengaran. Ilmuwan memfokuskan penelitian pada gen yang disebut TMC1, penyebab umum penyakit tuli dari genetik manusia.
Mereka kemudian menyuntikkan virus yang berisi gen sehat ke dalam virus rekayasa yang disebut adeno-associated virus 1, atau AAV1. Virus itu kemudian menginfeksi sel rambut dalam telinga atau anak tikus yang tuli, lalu membiarkan virus baik itu bekerja.
Dalam kurun satu bulan, sekitar setengah dari tikus yang disertakan dalam uji coba itu memperlihatkan adanya aktivitas gelombang otak yang konsisten dengan pendengaran. Mereka pun bereaksi saat mendengar suara yang keras.
Rupanya perusahaan farmasi Novartis lebih maju dalam penelitian ini. Mereka telah melakukan uji coba Oktober lalu dan merekrut sekitar 45 orang di Amerika Serikat. Hasilnya akan bisa terlihat pada 2017.
Perusahaan asal Swiss itu bekerja sama dengan GenVec seja 2010 dengan nilai penelitian US$214 jutta. GenVec berkewajiban menciptakan gen yang disebut Atoh1 yang akan berperan sebagai pengganti untuk memicu pertumbuhan sel rambut di kuping bagian dalam, itu merupakan pusat dari sistem pendengaran.
Proses ini rupanya cukup memberikan pencerahan bagi mereka yang menderita kerusakan pendengaran karena penyakit atau paparan obat tertentu, termasuk antibiotik. Namun obat ini dipercaya tidak akan bekerja terhadap bayi-bayi yang menderita gangguan genetik pendengaran pada kedua telinganya.
"Ada banyak tipe penyakit pendengaran yang membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda," ujar Tobias Moser dari University Medical Center Gottingen, Jerman. (ase)
