Eksperimen Anak Bangsa Dibawa NASA, Lapan Sempat Ragu
"Program edukasi pemanfaatan ISS ini sudah dilakukan sejak lama. Pada 2010 ada Space Seed for Asia Future. Kala itu Indonesia mengirim biji tomat ke ISS,” tuturnya.
Siswa-siswa SMP menanam biji tomat, kemudian membandingkannya (bji tomat yang dikirim ke antariksa dan yang tidak). Kegiatan selanjutnya, pengamatan pertumbuhan dan kekuatan kecambah kacang yang ditumbuhkan di ISS.
Program selanjutnya, pada 2016, adalah Asia Herbs in Space. “Ini adalah fasilitas gratisan, jadi para siswa hanya ditantang untuk membuat eksperimen pembanding di Bumi. Mereka membandingkan pengamatan di ISS dengan hasil di bumi," kata Thomas.
Jadi, ada dua program berbeda di sini. Lapan telah melakukan kerja sama dengan JAXA yang sifatnya gratis, sedangkan yang dilakukan ISRG dan siswa-siswanya ini adalah berbayar.
"Di Jepang pun ada perusahaan mitra JAXA yang menyediakan fasilitas eksperimen antariksa berbayar. Kalau ada sekolah atau universitas mau mengirimkan eksperimennya, bisa menggunakan jasa mereka,” ujarnya.
Namun, spesifikasi dan prosedur akan ditentukan agar layak dibawa ke ISS. Sama dengan NanoRacks.
Tapi, dalam eksperimen kerja sama Lapan, JAXA dan Asia Pasifik, sekolah yang berpartisipasi tak perlu membayar alias gratis. Namun, jenis eksperimennya sudah ditentukan oleh JAXA, setelah dibawa bersama dengan Lapan dan negara Asia Pasifik lain," papar Thomas.
Dia menambahkan, selain eksperimen biologi antariksa, NASA juga memiliki eksperimen lain seperti Try Zero G. Di sini, para siswa ditantang mengusulkan eksperimen sederhana berbasis fisika agar bisa diaplikasikan astronaut.
"Untuk edukasi mikrogravitasi, Lapan pun menyediakan fasilitas uji dengan drop tower dan klinostat. Saat Festival Sains Antariksa 2015, siswa SMA ditantang mengusulkan eksperimen mikrogravitasi dengan drop tower tersebut. Murah meriah namun mendidik," ujarnya.
