Pantai Kayuburu Tuan Rumah Festival Nasional Musik Tradisi
Senin, 11 April 2016 - 07:43 WIB
Sumber :
- VoxPop.co.id/Ikhwan Yanuar
Kegiatan festival yang dilakukan oleh Kemendikbud itu pun merupakan salah satu strategi penciptaan rasa seni yang kekinian dalam mendayagunakan kekayaan dan kemajemukan musik tradisi yang sudah ada. Masyarakat khususnya dari anak-anak diharapkan tidak lupa bahwa Indonesia merupakan Negara yang kaya akan seni dan budaya. Acara ini adalah bentuk pelestarian sekaligus perwujudan kecintaan terhadap tanah air.
“Tradisi ini mesti diteruskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Kalau bisa se-dini mungkin. Karena seringkali kita melupakan pentingnya tahun-tahun pembentukan dari anak-anak. Sehingga ketika dia bersentuhan dari apa yang namanya tradisi, bukan saat usianya sudah besar sehingga tidak menjadi kulit. Kalau dari anak-anak langsung ikut mengalami, merasakan, pembentukan ini. Rasa awal itu. Sehingga betul-betul menjadi bagian dari hidupnya. Itu yang diharapkan,” jelas Hilmar.
Pengajar lepas di Institut Kesenian Jakarta tersebut mengatakan, pada dasarnya ada cukup banyak program dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud untuk meningkatkan kecintaan terhadap seni dan budaya, khususnya bagi anak-anak. Hilmar menyebut bahwa kesenian dan kebudayaan tidak terlepas dari system pendidikan di Indonesia.
“Sehingga mestinya sejak awal anak-anak diperkenalkan pada gagasan bahwa kesenian itu sebuah jaminan hidup,” tuturnya.
Festival musik seni anak ini akan dilombakan bagi para pesertanya. Masing-masing provinsi akan mengirimkan satu kelompok untuk mewakili daerahnya. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini bersifat selebrasi namun tetap dalam pengamatan dan penilaian yang bertujuan untuk memotivasi para penampil dalam meningkatkan kualitas pertunjukan musik yang akan dimainkan di masa mendatang.
“Dari sisi pendidikan saya kira penting ada semacam peringkat, karena pendidikan untuk anak-anak di usia belia dengan yang menuju dewasa akan berbeda penanganannya. Jadi kategori penting dan lebih untuk kepentingan pendidikan itu. Bukan pada yang satu lebih baik dari yang lain, tetapi bahwa peringkat ini menunjukkan jenjang kemampuan dari masing-masing anak, sesuai dengan takarannya,” ucapnya.
“Karena kadang kita memberikan beban yang terlalu berat. Kalau dikasih kategori sama, ya nggak mungkin untuk anak. Walau memang ada anak-anak ajaib yang punya kemampuan lebih di usia yang sangat muda, kita tidak bisa menutup mata tentang itu. Tetapi secara umum jenjang itu pada akhirnya diperlukan. Kita ibaratkan seperti naik tangga, semakin besar kemampuannya, kakinya semakin kokoh, tubuh lebih kuat, makin bisa meningkat dan meningkat,” tambah Hilmar.
Halaman Selanjutnya
