Kisah Habibie Pelopori Teknologi GSM di Indonesia
- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Meski telah bertransformasi ke layanan digital dan teknologi 4G, Telkomsel mengaku tidak akan pernah melupakan pengguna 2G yang masih ada sampai saat ini. Dikatakan Ririek, ada sekitar 45 persen pengguna Telkomsel yang masih menggunakan teknologi 2G. Biasanya berada di desa terpencil dan pulau terluar Indonesia.
"Masih ada 45 persen, artinya ada sekitar 60 jutaan pengguna 2G. Sekitar 40 persen dari total BTS kami pun masih ada yang 2G. Meski menggalakkan 4G, kami tidak pernah mengorbankan pengguna 2G. Profit legacy kami masih dari voice," jelas Direktur Jaringan Telkomsel, Sukardi Silalahi.
Ditambahkan Direktur Sales Telkomsel, Mas'ud Khamid, perusahaannya yakin pelanggan 4G akan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Apalagi ditambah dengan ketersediaan handset 2G yang semakin lama akan semakin sedikit.
"Target kami, pelanggan 4G tahun ini akan mencapai 8 sampai 11 juta di jaringan kami. Separuhnya kami yakin akan berasal dari mantan pengguna 2G. Selain strategi melalui migrasi handset, kami juga banyak menyediakan bous paket di beberapa wilayah untuk merayu pelanggan 2G berpindah ke 4G," papar Mas'ud.
![]()
PR dari Menkominfo
Meski mengklaim sebagai penyedia layanan 4G dengan cakupan terbanyak dibanding operator lain, tetap saja hal ini dirasa belum cukup menjangkau semua wilayah Indonesia yang cukup luas. Menkominfo Rudiantara mengatakan bahwa masih ada lebih dari 400 kabupater yang belum di cover oleh 4G.
"Ini tugas Telkomsel bagaimana memberikan cakupan ke 400 kabupaten di Indonesia itu. Selain itu, kalau bisa dari sisi kecepatan download, kita bisa berada di nomor dua, setelah Singapura," kata Rudiantara.
Dijelaskannya, menurut data Open Signal, Jakarta telah menduduki posisi nomor empat perihal kecepatan internet. Untuk download, kata dia, Jakarta telah mencapai kecepatan 7 megabyte per second (mbps). Meski tergolong sudah cukup mumpuni namun masih kalah dengan Malaysia, Singapura dan Thailand.
"Itu kalau di kota. Kalau di wilayah timur, seperti Papua dan Maluku, kecepatannya cuma 300 Kbps, harganya juga mahal. Ini saya maklumi karena memang pembangunan infrastrukturnya mahal di sana," katanya.
