Ancaman Robohnya Keuangan Negara
6. Di tengah ancaman defisit APBN yang makin besar itu, pemerintah mesti berhati-hati untuk mengambil pilihan berhutang. Lebih-lebih, dominasi Surat Utang Negara (SUN) dalam utang pemerintah masih besar, yaitu sekitar 77 persen dari total utang. Banjirnya aliran dana asing yang masuk ke pasar modal dan keuangan, khususnya ke instrumen surat utang negara (SUN), sedikit-banyak akan memberi risiko bagi keuangan nasional. Ujungnya, ekonomi nasional bisa roboh.
7. Lebih dari itu, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai lebih dari Rp2.000 triliun menjadi pintu masuk kepemilikan asing terhadap kekayaan nasional. Karenanya, pemerintah harus berhati-hati dan menempatkan posisinya pada komitmen melindungi kepentingan nasional dari dampak buruk kepemilikan asing yang bisa disebut bubble itu.
8) Selanjutnya, pemerintah mesti memberi perhatian pada posisi ULN yang masih didominasi oleh ULN jangka panjang. ULN berjangka panjang pada akhir triwulan I 2016 mencapai USD277,9 miliar atau 87,9 persen dari total ULN. Angka itu naik 7,9 persen (tahun ke tahun). Ini pasti jadi masalah dalam jangka panjang apalagi bunganya dalam bentuk bunga komersil.
9. Untuk diketahui, posisi ULN sektor publik sebesar USD151,3 miliar (47,9 persen dari total ULN), sementara ULN sektor swasta mencapai USD164,7 miliar (52,1 persen dari total ULN). Posisi ULN yang masih didominasi oleh ULN sektor swasta sebesar 52,1 persen dari total ULN itu harus diwaspadai. Karenanya, pemerintah mesti merancang skenario antisipasi yang sungguh-sungguh atas komposisi debitur utang tersebut. Lebih-lebih, utang sektor swasta itu terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih yang sangat rentan. (Webtorial)
