Rizal Ramli Ungkap Pengalaman Indonesia dengan IMF pada 1998

Rizal Ramli dalam acara ILC di tvOne
Sumber :
  • tvOne

VoxPop - Tokoh nasional Rizal Ramli mengingatkan kembali sejarah kelam Indonesia saat berurusan dengan International Monetary Fund (IMF). Bukannya keluar dari krisis moneter tahun 1998, Indonesia malah terjerumus ke dalam krisis ekonomi hingga mematik kerusuhan di bidang politik dan keamanan.

img_title Rupiah Makin Melemah ke Rp 18.104 Meski Pasar Respons Positif Proyeksi IMF & ADB soal Pertumbuhan Ekonomi RI 2026

Saat-saat paling buruk, kata Rizal, ketika IMF diundang ke Indonesia oleh Widjojo Nitisastro untuk mendikte pemerintah di era 1998.

Rizal masih mengingat bahwa kala itu dia menjadi salah satu ekonom yang diundang pemerintah untuk bertemu dengan petinggi IMF di Jakarta. Alih-alih pemerintah berharap dukungan dari Rizal Ramli, mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu justru menentang keras kehadiran IMF.

img_title Qodari Tegaskan Ekonomi Indonesia Tak Sama dengan 1998, Sebut Fundamental Kini Jauh Lebih Kuat

"Saya dulu ekonom yang menentang masuknya IMF. Saya bilang keras-keras, Indonesia tidak butuh IMF. Krisis akan makin buruk kalau IMF diundang masuk ke Indonesia," kata Rizal, Minggu, 18 April 2021.

Baca juga: Rizal Ramli Kritik Kebijakan Menkeu soal Pajak Orang Kaya

img_title Indonesia Tolak Tawaran Pinjaman IMF hingga Rp487 Triliun, Nilai Kondisi Fiskal Masih Kuat

Namun terlambat, Presiden Soeharto justru meneken perjanjian dengan IMF. Bos IMF Michael Camdessus menyaksikan momen penandatanganan tanggal 15 Januari 1998 itu sambil menyilangkan kedua lengan di dada.

Sementara Soeharto membungkuk untuk menandatangani Letter of Intent (LoI). Menurutnya, inilah momen kekalahan Indonesia oleh IMF.

Kekhawatiran Rizal soal IMF bukan tanpa alasan. Begawan ekonomi ini melihat beberapa negara malah terperosok makin dalam. Benar saja, IMF segera mengeluarkan aneka kebijakan yang membuat situasi makin buruk.

"Begitu IMF masuk, dia sarankan tingkat bunga bank dinaikkan dari 18 persen rata-rata jadi 80 persen. Banyak perusahaan langsung bangkrut," kata Rizal lagi.

Saran IMF untuk menutup 16 bank juga menuai polemik. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada perbankan Indonesia. Para nasabah ramai-ramai menarik uang simpanan mereka di bank.

Dari sini pemerintah terpaksa menyuntikkan dana BLBI sebesar US$ 80 miliar. Inilah awal malapetaka kasus korupsi triliunan rupiah yang belum tuntas di Indonesia.

Parahnya lagi, lanjut Rizal Ramli, IMF meminta Indonesia menaikkan harga BBM. Akhirnya pada 1 Mei 1998, Presiden Soeharto menaikkan harga BBM hingga 74 persen. Hal ini menurut Rizal yang memantik kerusuhan besar-besaran di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut