Profil Sanae Takaichi, Perempuan Pertama yang Jadi Perdana Menteri Jepang

Sanae Takaichi terpilih sebagai presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang
Sumber :
  • Nikkei Asia

VoxPop – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Jepang akhirnya memiliki perdana menteri perempuan. Sosok itu adalah Sanae Takaichi, politisi konservatif berpengaruh dari Partai Demokrat Liberal (LDP), yang resmi ditunjuk oleh parlemen Jepang pada Selasa, 21 Oktober 2025.

img_title Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Dahsyat di Jepang Bertambah Jadi 38 Orang

Perempuan berusia 64 tahun ini terpilih setelah memenangkan mayoritas suara dalam putaran pertama pemungutan suara di majelis rendah dengan raihan 237 suara dari total 465 kursi.

Takaichi akan menggantikan Shigeru Ishiba, yang mundur pada bulan sebelumnya karena kekalahan LDP dalam pemilu. Ia menjadi perdana menteri kelima Jepang dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan betapa dinamisnya politik di Negeri Sakura.

img_title Membandingkan Game RPG Jepang dan Barat, Dua Filosofi Desain yang Membentuk Industri Game Selama Puluhan Tahun

Sanae Takaichi lahir pada 7 Maret 1961 di Yamatokoriyama, Prefektur Nara, Jepang bagian barat. Lulus dari Universitas Kobe, ia sempat bekerja sebagai penulis, penyiar, dan asisten legislatif sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia politik, seperti dilansir dari Anadolu Ajansı. 

Karier politiknya dimulai pada tahun 1993, saat ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Jepang sebagai calon independen. Tak lama kemudian, ia bergabung dengan LDP dan berhasil mempertahankan kursinya dalam sembilan kali pemilihan berturut-turut.

img_title Jepang Turunkan Pemain Bintang di Asian Games 2026, Timnas Voli Putri Indonesia Wajib Waspada

Takaichi dikenal sebagai sosok yang dekat dengan mendiang Shinzo Abe dan dianggap sebagai penerus ideologi politiknya. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi di bawah pemerintahan Abe pada 2019–2020. Kedekatannya dengan Abe juga membentuk arah politiknya yang cenderung nasionalis dan konservatif.

Dalam bidang diplomasi, Takaichi dikenal memiliki pandangan keras terhadap Tiongkok dan menekankan pentingnya memperkuat pertahanan nasional. Ia juga menyebut Taiwan sebagai mitra penting dan sahabat berharga bagi Jepang, sebuah sikap yang menunjukkan keinginannya mempererat hubungan dengan sekutu-sekutu demokratis di kawasan Asia Timur.

Selain itu, Takaichi juga dikenal menentang revisi sejarah yang dianggap menghapus pencapaian Jepang di masa lalu. Ia sering mengkritik buku-buku pelajaran yang dinilai tidak menampilkan “prestasi besar para pendahulu Jepang.”

Meski disegani, Takaichi juga menuai kontroversi. Ia beberapa kali mengunjungi Kuil Yasukuni, tempat yang didedikasikan bagi tentara Jepang yang gugur dalam perang, termasuk 14 penjahat perang kelas A. Kunjungannya menuai kritik dari Tiongkok dan Korea Selatan, yang menilai tindakan itu sebagai simbol ketidakmampuan Jepang menghadapi sejarah militernya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut