Warga Tibet Gelar Aksi Protes Lawan Penindasan Tiongkok
- AP Photo/ Gurinder Osan
Perjanjian yang ditandatangani pada 1951 antara China dan perwakilan Tibet tersebut menegaskan kedaulatan China atas Tibet, tetapi juga menjanjikan otonomi, kebebasan beragama, dan pelestarian sistem lokal.
Menurut Yeh, tekanan tersebut kini berkembang menjadi represi transnasional yang tidak hanya menargetkan warga Tibet dan Uyghur, tetapi juga komunitas dari Hong Kong dan Taiwan.
“Mendukung warga Tibet berarti menegakkan demokrasi dan kebebasan Taiwan sendiri,” katanya.
Anggota kelompok aktivis Hong Kong Outlanders Hong Kong, Sky Fung, mengatakan warga Tibet dan Hong Kong yang memiliki hubungan dengan Taiwan berisiko dituduh “bersekongkol dengan kekuatan eksternal” oleh Beijing.
Namun, menurutnya, banyak aktivis tetap melanjutkan perjuangan mereka di Taiwan karena tidak dapat menyuarakan perbedaan pendapat di tanah air mereka.
Fung juga menuduh China berupaya mencampuri proses reinkarnasi Dalai Lama di Tibet serta melemahkan supremasi hukum dan kebebasan di Hong Kong.
“Tindakan-tindakan itu mendorong warga Tibet dan Hong Kong hingga batas kemampuan mereka,” katanya, seraya menyerukan masyarakat Taiwan untuk bersuara melawan penindasan Beijing. Menurut panitia, sekitar 300 orang berpartisipasi dalam pawai tersebut.
