Menteri Keamanan Israel Sebut Dirinya Seperti Pemilik Masjid Al Aqsa

Masjid Al Aqsa di Yerusalem, Palestina
Sumber :
  • AP Photo/Leo Correa

VoxPop –Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir mengatakan bahwa ia merasa seerti ’pemilik’ Masjid Al Aqsa yang berada di Kota Tua Yerusalem. Dalam pernyataannya Minggu 12 April kemarin, Gvir uga berupaya untuk memberikan akses yang lebih besar bagi para jamaah Yahudi.

img_title Hamas Respons Pernyataan Trump: Tidak Ada Pelucutan Senjata Sebelum Israel Mundur dari Gaza

Pernyataan kontroversial Ben Gvir ini disampaikan saat melakukan penggerebekan di Al Aqsa hanya beberapa hari setelah Israel kembali membuka kawasan tersebut untuk masyarakat Palestina setelah sebulan lebih ditutup.

”Hari ini saya merasa seperti pemili di sini. Masih banyak yang harus dilakukan, masihi banyak yang harus diperbaiki. Saya terus mendorong Perdana Menteri (Benjamin Netanyahu) untuk berbuat lebih banyak lagi. Kita harus terus melangkah ke tingkat yang lebih tinggi,” kata dia  dalam sebuah video yang difilmkan di lokasi tersebut dikutip dari laman Middle East Eye, Senin 13 April 2026.

img_title Donald Trump Rilis Pernyataan Lengkap soal Klaim Hamas Sepakat Lucuti Senjata, Israel Masih Bungkam

Komentar Ben Gvir itu muncul di tengah upaya keberlanjutan untuk meningkatkan kehadiran Yahudi di lokasi tersebut sekaligus membatasi akses warga Palestina di sana.

Sebagai informasi, awal pekan ini Israel membuka Masjid Al Aqsa setelah penetupan selama lebih dari 40 hari. Penutupan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mengakibatkan warga Palestina tidak boleh menginjakkan kaki di Masjid tersebut selama Ramadan, Idul Fitri dan Salat Jumat.

img_title Netanyahu Tak Takut Ditangkap Negara Anggota ICC atas Dugaan Kejahatan Perang, Ini Alasannya

Otoritas Israel juga kembali mengizinkan aksi masuk setiap hari oleh kelompok Ultranasionalis ke kompleks Al Aqsa bahkan dengan durasi yang diperpanjang.

Masjid Al-Aqsa diatur oleh kesepakatan lama yang dikenal sebagai Status Quo, sebuah pengaturan internasional yang mengakui karakter Islam dari situs tersebut serta memberikan otoritas Muslim kendali atas akses, ibadah, dan perawatannya. Dalam kesepakatan yang sensitif ini, umat Yahudi diperbolehkan berkunjung, tetapi tidak diizinkan untuk beribadah di sana.

Namun, Israel telah lama melanggar pengaturan tersebut, termasuk dengan membiarkan penggerebekan dan pelaksanaan ibadah oleh kelompok ultranasionalis Israel di dalam kompleks tanpa persetujuan pihak Palestina.

Aksi masuk yang berulang ini memicu kekhawatiran bahwa Israel mungkin akan mengubah aturan yang selama ini berlaku, seperti menyediakan lebih banyak ruang bagi umat Yahudi untuk beribadah atau menambah waktu khusus untuk mereka.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut