Penembakan oleh Siswa di Thailand, Benarkah Dipicu Perundungan? Ini Kesaksian Teman dan Keluarga

Proses evakuasi di sekolah Debsirin Nonthaburi School Thailand
Sumber :
  • AFP

VoxPop –Kasus penembakan yang terjadi di Debsirin Nonthaburi School Thailand, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, mendapat sorotan publik. Penembakan yang terjadi pada Jumat siang, 7 Agustus 2026, tersebut diketahui dilakukan oleh seorang siswa sekolah itu.

img_title Kapendam: Pelaku Penembakan di Festival Budaya Lembah Baliem Kelompok KKB Kodap III Ndugama

Menyusul insiden tersebut, muncul spekulasi di tengah masyarakat bahwa aksi penembakan itu dipicu oleh dugaan perundungan yang dialami pelaku di lingkungan sekolah. Mengenai dugaan tersebut, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul meminta agar masayarakat tidak berspekulasi demikian. 

Ia menyebut bahwa penyidik harus terlebih dahulu mengungkap fakta yang sebenarnya. Melansir laman Bangkok Post, Minggu 9 Agustus 2026, Anutin juga menyerukan agar pengawasan terhadap kepemilikan dan penggunaan senjata api diperketat. 

img_title Terungkap Perilaku Siswa 14 Tahun Pelaku Penembakan Sekolah di Thailand

Dia memperingatkan bahwa orang yang membawa senjata api di tempat umum tanpa memiliki kewenangan sebagai petugas resmi dapat menghadapi tuntutan pidana serius. PM Thailand juga menolak usulan terkait guru yang dibekali  senjata api untuk membela diri. Menurutnya, guru bukanlah aparat penegak hukum.

Ia juga memperingatkan bahwa pemilik senjata api dapat diproses secara hukum jika senjata yang berada di bawah tanggung jawab mereka dicuri dan kemudian digunakan untuk melakukan tindak kejahatan.

img_title Insiden Penembakan di Festival Lembah Baliem, Dua Orang Alami Luka-luka

Kesaksian Teman Sekolah

Seorang siswa di sekolah tersebut yang inisial M mengatakan bahwa ia mengenal siswa tersebut sejak Matthayom 1 hingga Matthayom 3 atau setara dengan kelas 7 hingga 9. M yakin temannya itu tidak pernah menjadi korban perundungan, diejek, maupun diserang oleh teman-teman sekelasnya. Menurut M, remaja tersebut jarang berbicara dengan orang lain dan biasanya duduk di pojok paling kiri di bagian belakang kelas.

Ia juga tidak pernah terlihat marah kepada teman sekelasnya ataupun terlibat perselisihan dengan mereka. Secara akademis, prestasinya tergolong baik. Namun, ia beberapa kali mengeluhkan guru bahasa Thailand. Ia merasa tidak sanggup mengerjakan banyaknya tugas yang diberikan dan pernah mendapatkan nilai nol atau tidak lulus dalam mata pelajaran tersebut. Siswa itu beberapa kali berusaha memperbaiki nilainya dan akhirnya berhasil. Ia juga sering membicarakan masalah tersebut dengan M.

M mengatakan, remaja tersebut sebelumnya pernah membawa senjata jenis BB gun ke sekolah di dalam tasnya. Ia menunjukkannya kepada teman-temannya dan menggunakannya untuk bermain tembak-tembakan di lingkungan sekolah. Setelah seorang siswa lain melaporkan kejadian itu, seorang guru menyita senjata tersebut dan mengurangi poin catatan kedisiplinannya sesuai dengan peraturan sekolah.

Pada hari penembakan, kata M, seluruh siswa, termasuk pelaku, mengikuti upacara pengibaran bendera pada pagi hari dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Penembakan terjadi pada jam pelajaran kedua, atau tepatnya saat jam pelajaran matematika. Ketika guru sedang menjelaskan tugas dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi kegiatan belajar ulang atau peninjauan materi.

"Sebelum penembakan, tidak ada tanda-tanda peringatan ataupun suasana yang tegang," kata M.

Saudara perempuan dari nenek siswa tersebut juga menegaskan bahwa ia adalah anak yang baik dan tidak pernah membuat masalah bagi kakek-neneknya maupun orang lain. Menurutnya, anak itu tidak mudah terpengaruh oleh teman-temannya. Ia pergi ke sekolah pada pagi hari dan pulang tepat waktu. Pada akhir pekan, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada berkunjung ke tempat lain.

Ia mengatakan bahwa anak tersebut bermain game komputer, meskipun dirinya tidak mengetahui game apa yang dimainkan. Ia juga menegaskan bahwa anak tersebut bukan anak yang kasar atau suka melakukan kekerasan. Ia menggambarkannya sebagai anak yang berperilaku baik, cenderung menyendiri, dan tidak banyak bergaul dengan orang lain.

Ia menambahkan bahwa kakek dan neneknya, yang menjadi korban tewas dalam penembakan tersebut, tidak pernah memberikan tekanan kepadanya. Polisi mengatakan telah mewawancarai lebih dari 20 guru dan siswa. Polisi juga akan meminta keterangan dari guru bahasa Thailand yang disebut-sebut berkaitan dengan kasus tersebut.

Selain itu, polisi sedang menyelidiki asal amunisi yang digunakan dalam penembakan serta mencari tahu apakah tersangka sebelumnya pernah mendapatkan pelatihan menggunakan senjata api.

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, Jumat kemarin seorang siswa berusia 14 tahun menggunakan pistol 9 mm milik kakeknya untuk menembak guru dan siswa di dalam sekolah, setelah sebelumnya menembak hingga tewas kakek dan neneknya di rumah. Ia kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam kejadian tersebut, sembilan orang meninggal dunia dan 21 orang lainnya terluka, termasuk 19 siswa dan dua guru.

Ilustrasi penembakan.

Polda Papua Ungkap Kondisi Dua Korban Penembakan OTK di Festival Budaya Lembah Baliem

Polda Papua menyatakan korban penembakan di Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB), Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan sudah dalam keadaan sadar.

img_title
VoxPop.co.id
9 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut