Hukuman Berat Pembunuh Sadis Putri

Ilustrasi/Anak korban ledakan bom
Sumber :
  • VoxPop.co.id/http://www.dw.de

VoxPop.co.id - Pengamat Sosial Universitas Indonesia Devie Rahmawati menilai, kasus pembunuhan yang dialami Putri Nur Fauziah, gadis kecil yang usianya baru sembilan tahun butuh perhatian serius semua pihak karena tergolong sadis.

Devie pun berharap, pelaku dapat diberi hukuman yang terberat atas perbuatannya. "Kita tentu saja prihatin dengan kondisi keji yang menimpa adinda ini. Mengenai motif yang melatarbelakangi kejadian, belum dapat dianalisa lebih lanjut, mengingat tersangka pelaku belum diidentifikasi oleh pihak berwenang," bebernya pada VoxPop.co.id, Sabtu 3 Oktober 2015.

Namun secara umum, kata Devie, ada banyak faktor yang dapat mendorong individu berperilaku agresif dan sadistis. "Beberapa teori sebenarnya menyebutkan bahwa perilaku sadis terkait dengan kasus pemerkosaan ialah ada beberapa pelaku pemerkosaan yang memang memiliki kecenderungan seksual tidak normal karena "kegairahan" tersulut oleh kekerasan," tuturnya.

Menurut Devie, itu terjadi karena ada sebagian pelaku pemerkosaan yang merasa "tertantang" bila korbannya menunjukkan perlawanan, yang kemudian membuat yang bersangkutan akan merespon dengan tindakan kekerasan yang bisa berakhir dengan kondisi yang mengenaskan.

"Namun sekali lagi, kita tidak dapat berspekulasi, sebelum ada hasil penyelidikan yang mendalam dari pihak berwajib. Namun, dengan hadirnya kembali kejadian ini, besar harapan, masyarakat akan lebih waspada dengan sanak keluarganya yang rentan menjadi korban kejahatan, termasuk kejahatan seksual," ucapnya.

Siapakah mereka yang menjadi kelompok rentan? Devie mengatakan, yakni tentu saja perempuan dan anak-anaklah yang menjadi kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian khusus.

"Kepedulian ini tidak hanya menyasar kepada keluarga masing-masing, tetapi juga kerabat dan tetangga misalnya. Sekolah juga diminta, memperkuat mekanisme pengawasan terhadap anak-anak peserta didik. Salah satu cara ialah membangun komunikasi dengan keluarga menggunakan medium teknologi yang ada saat ini. Anak-anak tidak dibiarkan dalam kondisi yang tidak didampingi," terangnya.

Devie berpendapat, ketika antar anggota keluarga di sekolah dan rumah sudah terhubung satu sama lain, sangat memungkinkan ada kerjasama yang baik. Sebagai contoh, dapat saling "menitipkan" anak-anak kepada orangtua keluarga lain (satu sekolah dan sebagainya).

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Guru Pencubit Anak Tentara Divonis 6 Bulan Percobaan
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut