Cara Gugus Tugas Hijaukan Zona Covid-19 di Kalsel
- BNPB
VoxPop – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo melakukan kunjungan kerja ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, guna memastikan kesiapan, kapasitas dan infrastruktur terkait penanganan COVID-19 di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, Minggu, 7 Juni 2020.
Kunjungan kerja tersebut sekaligus dilakukan sebagai respon cepat atas arahan Presiden Joko Widodo yang disampaikan dalam Rapat Terbatas (Ratas) Penanganan COVID-19 pada Senin, 2 Juni 2020. Turut serta dalam rombongan, dua pejabat lainnya yakni Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto.
Mengawali agenda kunjungan kerja, Doni Monardo bersama Menko PMK Muhadjir Effendy dan Menkes Terawan meninjau laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru, yang berada di bawah wewenang Kementerian Kesehatan RI melalui Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan.
Adapun BBTKLPP tersebut sebelumnya telah ditunjuk Kementerian Kesehatan menjadi satu-satunya laboratorium COVID-19 dan menjadi satu-satunya yang dimiliki Pemprov Kalsel.
Dalam peninjauan tersebut, Doni Monardo yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dua pejabat serta para rombongan melihat langsung apa yang menjadi kendala di lapangan sehingga memicu angka kasus COVID-19 di Kalsel mengalami kenaikan yang sangat signifikan.
Hal pertama yang menjadi permasalahan adalah terbatasnya infrastruktur dan jumlah untuk alat uji spesimen, seperti tes cepat Polymerase Chain Reaction (PCR), minimnya alat kesehatan penunjang penanganan COVID-19 dan sumber daya manusia.
Selama ini, laboratorium BBTKLPP Banjarbaru hanya memiliki 2 unit alat TR-PCR kapasitas pemeriksaan 134 per hari, di mana kemampuan pemeriksaan yang dapat dilakukan sebanyak 204 per hari. Kapasitas tersebut diketahui tidak mampu mengatasi lonjakan pasien.
Hal itu juga dibenarkan oleh Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor yang menyatakan bahwa kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan jumlah alat uji spesimen, juga alat-alat kesehatan lainnya.
“Alat uji sampel kita sedikit. Untuk melakukan testing massal kami kewalahan,” kata Sahbirin.
Sejalan dengan itu, Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina juga mengatakan bahwa dengan terbatasnya alat uji sampel membuat data menjadi tertumpuk dan masuk antrean yang pada akhirnya menjadikan data menjadi naik secara drastis, setelah hasil pemeriksaan keluar dan dilaporkan secara bersamaan.
