Jawaban Telak Susi Usai Dituding Hashim Kebijakannya Keliru

Susi Pudjiastuti (foto/Twitter/@Sopo_Jarwo3)
Sumber :
  • U-Report

VoxPop – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Susi Pudjiastuti angkat bicara soal tudingan Hashim Djojohadikusumo yang menyebut larangan ekspor benih lobster adalah keliru dan merugikan nelayan.

img_title Hashim Tawarkan Kredit Karbon Indonesia ke Perusahaan Thailand, Bidik Kerja Sama Pengurangan Emisi

Dalam video berdurasi 1 menit 27 detik yang diunggah di akun pribadi @susipudjiastuti, mantan menteri berusia 55 tahun itu menyebut memang ada pihak yang mengatakan kebijakannya saat menjabat sebagai Menteri KKP periode 2014-2019 keliru.

"Matahari cerah sekali. Saya tadi pagi saya cuma dengar Susi keliru, Susi keliru. Susi keliru apanya. Saya sekarang ada di pantai kok lagi paddling kok, keliru apanya. Siang hari ini ngomong susi keliru," kata Susi sambil duduk di atas papan paddling di tengah laut.

img_title Disebut Sebagai Agen CIA Palsu, Hashim Djojohadikusumo Buka Suara

Susi mengatakan saat dia menjabat sebagai menteri, dia telah menegaskan siapa yang keberatan dengan kebijakannya bisa mengajukan keberatan ke pengadilan. Dia menyebut saat itu adalah salah satu pihak yang menuntutnya sebesar Rp1 triliun namun tidak ada yang berhasil.

"Sekarang saya cuma Susi sedang paddling di tengah laut apa urusannya yang keliru, coba apa kan sudah diganti semua yang keliru. Mestinya kan jadi benar, kalau keliru diganti masa keliru lagi, keliru diganti ya jadi benar," kata dia.

img_title Indonesia Impor 150 Juta Barel Minyak dari Rusia, Dapat Harga Khusus

Sebelumnya adik dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo menyebut kebijakan Susi saat masih menjabat Menteri KKP dengan melarang budidaya lobster sangat keliru. Menurut Hashim, kebijakan itu membuat banyak usaha lobster nelayan di Indonesia harus ditutup.

Hashim menceritakan sedikit latar belakang perusahaannya. Dia mengaku telah membangun usaha di bidang kemaritiman sejak 34 tahun silam. Bermula usaha tersebut bergerak pada bidang budidaya mutiara. Kemudian dalam lima tahun belakangan, bisnis mutiara mengalami gangguan dan membuat perusahaan terus mengalami kerugian.

Dalam kesulitan tersebut, Hashim tidak memutus hubungan kerja (PHK) para karyawan yang berjumlah 214 orang di Nusa Tenggara Barat. Dari situ kemudian muncul ide untuk melakukan diversifikasi di luar mutiara.

“Ada ide untuk teripang, lobster budidaya seperti kepiting dan sebagainya,” ujarnya.

Untuk lobster, Hashim mengaku tidak main, karena pemerintah Jokowi di periode pertama melarang. Menteri Kelautan dan Perikanan waktu itu, Susi Pudjiastuti, juga tegas melarang budidaya benih lobster.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut