Peneliti BRIN Ungkap Proses Penularan Virus Nipah ke Manusia

Ilustrasi virus nipah
Sumber :
  • Pixabay

Jakarta, VoxPop –Isu mengenai virus Nipah belakangan ini tengah menjadi sorotan dunia menyusul dengan penemuan kasus tersebut di Bengal Barat, India. Terkait dengan virus Nipah, Peneliti Ahli Utama Virologi  sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan, Badan Riset dan Invoasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti angkat bicara.

img_title Heboh! Meteor Melintasi Jawa hingga Terdengar Suara Dentuman, BRIN Beri Penjelasan

Indi menjelaskan bahwa virus Nipah (Nipah virus/NiV) merupakan penyakit zoonotik yang perlu dipahami secara tepat berdasarkan kajian ilmiah, mengingat karakteristiknya yang serius dan berpotensi menimbulkan wabah apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Virus Nipah lanjut Indi perlu diwaspadai karena memiliki tingkat kematian yang tinggi dan berpotensi menimbulkan wabah. Meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa virus ini telah bersirkulasi di alam.

img_title Peneliti BRIN Soroti Korupsi di Indonesia: Sudah Jadi 'Bencana yang Luar Biasa'

Indi mengungkapkan, Nipah virus pertama kali diidentifikasi pada wabah di Malaysia pada 1998 dan sejak itu menimbulkan kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

“Nipah virus memiliki dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, serta aspek sosial dan ekonomi,” jelasnya, dikutip dari laman resmi BRIN, Senin 2 Februari 2026.

img_title Viral Lambang Garuda Diduga Dibuat AI untuk Hari Lahir Pancasila, BRIN Akhirnya Minta Maaf

Lebih lanjut Indi mengungkap, Nipah virus termasuk genus Henipavirus dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, namun berpotensi menularkannya ke hewan lain maupun manusia.

Penularan virus Nipah ke manusia, lanjut Indi, dapat terjadi melalui beberapa jalur, antara lain kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, serta penularan antarmanusia. Di sejumlah negara, wabah NiV juga dikaitkan dengan konsumsi makanan yang terkontaminasi urin atau saliva kelelawar.

Terkait Indonesia, Indi menyebutkan bahwa sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah keberadaan virus Nipah pada satwa liar. Studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi.

“Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom Nipah virus,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut