Cerita Bung Karno Gotong Jenazah Mertua ke Hutan
- VoxPop.co.id/Dody Handoko
VoxPop.co.id - Tanggal 12 Oktober adalah hari wafat Ibu Amsi. Tepatnya 12 Oktober 1935, ibu dari Inggit Garnasih, mertua Bung Karno wafat terserang malaria. Lima hari tergolek di tempat tidur, di rumah pengasingan Bung Karno di Ambugaga, Ende, Flores.
Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diriwayatkan, hanya sekali ibu Amsi sadarkan diri, setelah itu ia tergolek tak sadar, hingga ajal menjemput. Ibu Amsi wafat di pangkuan Bung Karno, menantu kesayangan.
Ketika itu, cucu ibu Amsi, anak angkat Bung Karno – Inggit, Ratna Djuami, juga terserang malaria. Bedanya, Omi, begitu ia dipanggil, pulih, sedangkan Tuhan menghendaki Ibu Amsi wafat di tanah interniran, di tanah buangan, nun jauh dari Bandung.
Pemerintahan kolonial, karesidenan Ende, sama sekali tidak mau mengulurkan tangan untuk memberinya bantuan perawatan. Bahkan, setelah meninggal dunia pun, jenazahnya dilarang dikubur di dalam kota.
Bung Karno dan kawan-kawannya, harus menggotong jenazah Ibu Amsi jauh naik bukit, masuk ke tengah hutan. Ke tempat yang ditunjuk dan dibolehkan Belanda untuk memakamkan ibu Amsi. Bung Karno pula yang turun ke dasar lahat, menerima jazad mertuanya, meletakkannya di tanah menghadapkannya ke arah kiblat, menutup dan mengurug.
Tak hanya itu. Tangan Bung Karno sendiri yang memahatkan tulisan Iboe Amsi di dinding nisan sebelah utara. Bersama teman-temannya, Bung Karno naik ke pegunungan, mengambil bongkahan batu karst yang keras, dan memahatnya menjadi seukuran batako, kemudian meletakkannya di sekeliling-pinggir-atas permukaan nisan, jumlahnya 21.
Ibu Amsi, seperti halnya Inggit, dan jutaan rakyat Indonesia, termasuk pengagum berat Bung Karno. Syahdan, ketika Inggit berunding bersama saudara-saudaranya di Bandung, tentang ikut-tidaknya Inggit ke pembuangan, Ibu Amsi muncul mendadak dan menyatakan sikapnya. “Saya juga ikut (ke pembuangan)”.
Inggit dalam buku “Kuantar ke Gerbang” menuturkan, di antara kerabatnya, terdapat silang pendapat. Antara yang setuju Inggit mendampingi Bung Karno ke pembuangan, dengan pendapat yang menyatakan sebaiknya Inggit tidak ikut.
Dalam penuturannya, Inggit juga mengisahkan, jauh di dasar hati, sudah terpancang tekad akan setia mendampingi Bung Karno.
