Api Dalam Sekam di Pilkada DKI
- ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Dengan posisi ini, maka jika merujuk ke pemungutan suara sebelumnya, ada 937.955 suara milik pasangan Agus-Sylviana yang berpotensi menyebar ke kubu Ahok-Djarot atau pun Anies-Sandiaga.
Perubahan berikutnya adalah jumlah Daftar Pemilih Tetap. Putaran pertama, KPU menuliskan bahwa ada 7.108.589 pemilih. Dengan rincian 3.561.690 pemilih laki-laki dan 3.546.899 pemilih perempuan. Lalu dari jumlah itu juga ada, 199.840 pemilih pemula dan sebanyak 5.371 adalah pemilih difabel.
Dari total itu kemudian tercatat ada 5.564.313 warga yang menggunakan hak pilihnya atau ada 75,75 persen warga berpartisipasi.
Lalu bagaimana putaran kedua? Dari pembaharuan data KPU, jumlah DPT untuk pemungutan suara pada 19 April 2017 ini mengalami perubahan. Jika sebelumnya ada 7,10 juta maka jumlah DPT putaran kedua menjadi 7,21 juta.
Dengan rincian, laki-laki 3.610.079 pemilih dan perempuan 3.608.201 pemilih. Serta jumlah pemilih pemula sebanyak 21.623 dan 5.029 pemilih difabel.
![]()
Ya, apa pun itu, Pilkada DKI memang terlanjur menjadi sorotan. Proses demokrasi dalam Pilkada di Ibu Kota negara ini menjadi rujukan bagi daerah lain.
Dengan jumlah pemilihnya yang luar biasa dan tingkat keberagaman pemilihnya, Jakarta patut menjadi contoh.
Tinggal lagi bagaimana memadamkan api dalam sekam yang kini muncul di tingkatan warga. Penekanan bahwa Pilkada adalah sebuah proses politik, dan siapa pun yang terpilih wajib didukung harus terus diingatkan.
Seperti kata Presiden Joko Widodo, "Siapapun pilihan warga DKI, itu adalah yang terbaik untuk Jakarta." (mus)
