Tagihan Listrik Bengkak PLN Masih Ada, Kantor Luhut Akan Cek Lapangan

Tagihan listrik.
Sumber :
  • U-Report

VoxPop – Keluhan para pelanggan Perusahaan Listrik Negara atau PLN, terkait tagihan listrik yang dinilai mengalami kenaikan tidak normal dalam beberapa bulan terakhir, nyatanya masih belum usai.

img_title Listrik Huntara korban Bencana di Sumatera Digratiskan PLN 6 Bulan

Baca Juga: Begini Cara Kantor Luhut Investigasi Tagihan Listrik Bengkak PLN

Meskipun pihak PLN kerap kali menjelaskan tidak ada kenaikan listrik selama masa pembatasan sosial berskala besar atau PSBB, namun pelanggan yang mengeluhkan kenaikan tarif listrik yang tidak wajar, bahkan hampir 100 persen dari jumlah tagihan biasanya, masih saja terjadi.

img_title Anggota DPR Bantu Janda Penjual Gorengan yang Tagihan Listriknya Melonjak Hingga Rp 12,7 Juta

Kali ini dialami oleh Marlia Utami (39 tahun), seorang pekerja swasta bidang jasa yang memiliki usaha indekos. Wanita yang akrab disapa Ami ini mengaku bahwa memang memiliki dua tagihan listrik berkapasitas masing-masing 2.200 VA, untuk rumah pribadi dan usaha indekos tersebut.

"Jadi di rumah ada dua meteran, yang satu buat rumah pribadi dan satu buat kos-kosan, masing-masing dayanya 2.200 VA," kata Ami kepada VoxPop, Selasa 7 Juli.

img_title Diskon 50 Persen Berakhir, Cek Rincian Tarif Listrik Bulan April 2025!

Ami menjelaskan, normalnya tagihan listrik per bulan itu masing-masing (untuk rumah pribadi dan indekos) biasanya hanya berkisar antara Rp800-Rp900 ribu.

Namun, tagihan yang membengkak itu mulai dirasakan oleh Ami pada Mei dan Juni 2020. Di mana, kenaikannya sampai Rp1,2 juta (Mei) dan Rp1,8 juta (Juni) untuk rumah pribadi. Sementara untuk jumlah tagihan di usaha indekosnya mencapai Rp1,3 juta (Mei) dan Rp1,1 juta (Juni).

Mengenai apakah Ami menyadari bahwa terdapat penambahan aktivitas penggunaan listrik di rumahnya pada saat menjalankan work from home selama masa PSBB, Ami pun membantah hal tersebut.

Dia mengaku, pelaksanaan WFH di pekerjaannya hanya tiga hari dalam seminggu, dan sisanya dia masih harus pergi ke kantor. Sementara sang suami justru tidak melakukan WFH sama sekali, karena jenis pekerjaan yang mengharuskannya berada di lapangan.

"Sebenarnya saya kan kerja WFH enggak setiap hari, jadi saya yang kerja di perusahaan jasa masih dua sampai tiga kali ke kantor dalam seminggu. Jadi kalau dibilang selama WFH ada peningkatan pemakaian, ya enggak juga," kata Ami.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut