Isu Dewan Moneter dan Burden Sharing Buat Rupiah Semakin Loyo

Ilustrasi rupiah dan dolar AS.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

VoxPop – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat, 4 September 2020. Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp14.790 per dolar AS.

img_title Rupiah Berbalik Melemah ke Rp18.075 per Dolar AS, Sikap Baru The Fed Bikin Arah Pasar Sulit Ditebak

Baca Juga: Bahaya yang Diciptakan dari Berdirinya Dewan Moneter di Indonesia

Di pasar spot, hingga pukul 10.10 WIB, rupiah ditransaksikan di kisaran Rp14.792 per dolar AS. Melemah 0,10 persen dari level perdagangan kemarin, Kamis, 3 September 2020 di posisi Rp14.777 per dolar AS.

img_title Rupiah Melemah, Menkes Sebut Harga Obat Bakal Naik Bertahap

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mematok nilai tengah rupiah di level Rp14.792. Lebih rendah dari nilai tengah kemarin di posisi Rp14.818.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan, kondisi tersebut disebabkan kekecewaan pelaku pasar keuangan terhadap skema berbagi beban antara BI dan pemerintah yang kemungkinan berjangka panjang.

img_title Mulai 1 Juli, BI Pangkas Batas Beli Dolar Tanpa Dokumen Jadi US$10.000, Ini Alasan dan Dampaknya

Sebab, katanya, Presiden Joko Widodo kemarin menyatakan bahwa jika pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa berada di kisaran 4,5-5,5 persen, maka burden sharing mungkin tidak lagi dibutuhkan pada 2022.

Pernyataan Jokowi tersebut, dikatakan Ibrahim, dimaknai bahwa masih ada peluang pemerintah akan meminta bantuan kepada BI untuk membiayai defisit anggaran setidaknya hingga 2022, andai pertumbuhan ekonomi di bawah target.

"Pelaku pasar kecewa karena mengira burden sharing hanya kebijakan jangka pendek, sekali pukul, ad hoc, one off. Namun ternyata ada kemungkinan bertahan lama," katanya dikutip dari analisisnya hari ini.

Di samping itu, Ibrahim melanjutkan, pelaku pasar juga mencemaskan wacana amendemen Undang Undang (UU) BI. Salah satu opsi yang ada adalah kembalinya Dewan Moneter seperti masa Orde Baru.

"Informasi ini membuat bingung pelaku pasar, sehingga wajar kalau dana asing menahan diri untuk masuk ke pasar keuangan malahan sebaliknya dana yang sudah parkir di pasar dalam negeri kembali keluar," tuturnya. (art)

Ilustrasi rupiah dan dolar

Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.300 per Dolar AS Pekan Depan, Pengamat Ungkap Penyebabnya

mulai dari PMI manufaktur, cadangan devisa, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), yang dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah

img_title
VoxPop.co.id
2 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut