RI Siap Bantu Uni Eropa Bikin Industri Baja Berteknologi Tinggi

Ilustrasi industri baja.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

VoxPop – Pemerintah Indonesia menilai, sengketa mengenai kebijakan larangan ekspor bijih nikel yang ditantang Uni Eropa di World Trade Organization (WTO) kemarin, disebabkan kalah saingnya produktivitas industri baja dan besi negara-negara di kawasan tersebut.

img_title Anggota DPR Dukung Komitmen Pemerintah Kembangkan Motor Listrik Berbasis Hilirisasi Nikel

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, menyatakan, itu karena pada dasarnya EU bukanlah importir terbesar nikel dari Indonesia. Meskipun, nikel merupakan bahan baku utama untuk membuat stainless steel atau besi tahan karet di industri mereka.

"Setelah kita pelajari bahan komoditas nikel yang diimpor EU ternyata kecil sekali dari Indonesia dan EU anggap ini (kebijakan larangan ekspor bijih nikel) ganggu produktivitas industri stainless steel mereka," kata Lutfi saat konferensi pers, Jumat, 15 Januari 2021.

img_title Tsingshan Group Usung Pengembangan Nikel Hijau & Berkelanjutan di Indonesia Critical Minerals 2026

Di sisi lain, dia mengklaim, karena Indonesia telah bertransformasi dari penjual produk mentah dan barang setengah jadi menjadi penjual barang hasil teknologi tinggi, termasuk di industri besi dan baja, menyebabkan produktivitasnya meningkat pesat dibanding EU.

"Karena baja kita terutama dari stainless steel penghasil nomor dua di dunia setelah China. Jadi Indonesia sukses menciptakan nilai tambah di industri tersebut dengan teknologi tinggi, energi efisien, menghasilkan barang-barang yang superior dan lebih baik dari Eropa," tuturnya.

img_title Kadin Dorong Peningkatan Standar Berkelanjutan Hilirisasi Nikel Jawab Tuntutan Pasar Global

Padahal, Lutfi mengingatkan, dengan pesatnya perkembangan teknologi tersebut, maka era perdagangan saat ini bukanlah era persaingan dan saling sengketa. Melainkan, era di mana kerja sama atau kolaborasi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan dunia.

"Saya ingatkan ke EU sebenarnya persaingan oke tapi ini era kolaborasi. Jadi kita kalau bicara persaingan, misal bicara minyak nabati kelapa sawit diadu dengan minyak nabati di Eropa rapeseed dan juga mungkin sunflower ini memang sulit dibandingkan," tuturnya.

Oleh sebab itu, dia menyatakan, jika nantinya UE meminta bantuan Indonesia untuk turut serta memberikan masukan atau dukungan memajukan industri besi dan baja mereka, termasuk stainless steel lebih berteknologi tinggi, maka pemerintah siap menolong.

"Sebagai bagian dari kolaborasi kita tidak merasa keberatan untuk memberikan masukan kalau dibilang nasihat enggak pantas, tapi memberikan masukan, input ke EU bagaimana menciptakan nilai tambah dari industri tersebut," ujar dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut