BI Sebut Perbankan RI Cari Untung Saat Suku Bunga Acuan Turun

Logo Bank Indonesia.
Sumber :
  • VivaNews/ Nur Farida

VoxPop – Bank Indonesia (BI) masih terus mengimbau kepada seluruh perbankan untuk cepat mengimbangi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-7 day reverse repo rate yang kini sudah sebesar 3,5 persen.

img_title Bank Indonesia Tahan BI Rate di 5,75 Persen, Simak Penjelasan Lengkapnya

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Juda Agung mengakui bahwa perbankan tidak responsif terhadap kebijakan penurunan suku bunga acuan BI. Hal itu berbanding terbalik jika suku bunga acuan dinaikkan.

"Inilah yang sebenarnya kita tidak inginkan. Bagi BI kita inginkan kalau BI itu turunkan suku bunga harusnya responsnya juga sama," kata Juda secara virtual, Senin, 22 Februari 2021.

img_title Likuiditas Pasar Uang Tetap Memadai usai Penurunan INDONIA, BI Ungkap Implikasinya

Menurut Juda, penurunan suku bunga acuan ini hanya cepat dilakukan perbankan terhadap suku bunga deposito atau simpanan semata. Sementara itu, untuk suku bunga kredit terbilang belum ada perubahan.

"Itu suku bunga depsoito hampir sama penurunannya, jadi dia sangat responsif, tapi suku bunga kredit masih sangat rigid (kaku), ini kelihatan spread nya sangat meningkat," ungkapnya.

img_title Bank Jakarta Pilih Pertumbuhan Berkualitas di Tengah Kenaikan Suku Bunga

Juda menduga, kondisi ini menandakan bahwa perbankan ingin mengambil keuntungan yang cukup besar. Sebab, selisih antara tingkat suku bunga acuan BI dengan tingkat suku bunga kredit ditegaskannya terlampau besar.

"Ini kelihatan spread nya sangat meningkat, ini justru mengalami pelebaran artinya bank-bank coba mendapatkan keuntungan yang lebih di saat seperti ini," papar Juda.

Sebagai informasi, berdasarkan data suku bunga dasar kredit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Desember 2020, rata-rata suku bunga kredit masih tinggi. Bank Rakyat Indonesia (BRI) misalnya mematok suku bunga kredit korporasi 9,95 persen sedangkan ritel 9,75 persen.

Untuk Bank Mandiri mematok kredit korporasi 9,85 persen dan ritel 9,8 persen, Bank Negara Indonesia (BNI) korporasi dan ritel sama-sama 9,64 persen dan Bank Central Asia (BCA) korporasi 8,25 persen dan ritel 8,75 persen.

"Dengan suku bunga turun harusnya mendorong ekonomi segera pulih, tapi justru spread nya naik, ini jadi salah satu faktor orang masih ragu-ragu untuk meminta kredit dari bank," ungkap Juda.

Inilah yang Dibahas Destry Damayanti Saat Bertemu Prabowo di Istana

PGS BI Destry Beberkan Strategi Hadapi Era Suku Bunga Tinggi di Dunia

Selain era suku bunga tinggi, ada pula masih memanasnya konflik di Timur Tengah saat ini. Sebab, akan memengaruhi harga komoditas dunia, khususnya minyak mentah.

img_title
VoxPop.co.id
31 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut