Dewan Pengawas Bandingkan Konsep LPI dengan SWF Negara Lain

Presiden Jokowi tunjuk pemimpin Lembaga Pengelola Investasi Indonesia
Sumber :
  • YouTube Sekretariat Presiden

VoxPop – Sebagai lembaga baru yang diinisiasi pemerintah guna menangani investasi di Tanah Air, Lembaga Pengelola Investasi (LPI) dinilai memiliki kekhasan tersendiri. LPI dinilai berbeda dengan lembaga Sovereign Wealth Fund (SWF) yang dimiliki negara lain.

img_title Bauksit Salip Nikel, Investasi Hilirisasi Tembus Rp40,1 Triliun pada Kuartal II 2026

Norwegia misalnya, memiliki Norwegian Oil Fund/Norges Bank, Singapura dengan Government of Singapore Investment Corporation/GIC dan India punya National Investment & Infrastructure Fund/NIIF.

Anggota Dewan Pengawas LPI, Darwin Cyril Noerhadi menjelaskan, konsep SWF India adalah yang hampir mirip dengan konsep yang diinginkan oleh SWF Indonesia. Lembaga di India itu diketahui menarik foreign direct investment atau investasi asing langsung dari Rusia, Turki, atau Mesir.

img_title Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Rosan Pastikan Pemerintah Tak Asal Tarik Investasi

NIIF India ini, lanjut dia, merupakan salah satu SWF yang baru yang dibentuk, yakni pada 2015 dan baru beroperasi 2017. Konsepnya di India, lanjut Cyril, pemerintah mengalokasikan dana US$3 miliar. SWF India ini memiliki konsep, bila investor asing masuk sampai 51 persen, maka NIIF akan masuk 49 persen dalam bentuk trust.

"Trust fund-nya ini mengelola apapun sektor aset yang dikembangkan, apakah itu infrastruktur atau sektor renewable energy, ataupun strategic market yang lain," ujar Cyril, Kamis, 25 Februari 2021.

img_title Percepat Transisi Energi Nasional, Proyek Bioetanol Lampung Memasuki Tahap Baru

Sementara itu, SWF di Norwegia yaitu Norges Bank memiliki konsep bahwa sumber pendanaan berasal dari penjualan minyak. Ini tentu berbeda dengan konsep SWF Indonesia.

"Jadi dana hasil penjualan minyak (di Norwegia) tidak masuk dalam budget negara, tapi masuk ke dalam suatu fund yang pengelolaannya oleh satu unit dari bank sentral investment management," kata Cyril.

Di Norwegia, lanjut dia, dana itu dikelola untuk investasi di global market. "Lebih banyak di porsi ekuiti atau sekitar 60 persen dari total aset portofolio. Tujuannya adalah untuk men-generate return dan bisa melanjutkan pertumbuhan sampai lintas generasi," ujarnya.

Dari segi entitas, Norwegian Oil Fund ini adalah yang terbesar, dengan nilai lebih dari US$1 triliun.

Sementara itu,  Government of Singapore Investment Corporation (GIC), berangkat dari improvisasi aset-aset yang ada di Singapura. GIC dibentuk dengan undang-undang yang berusia 40 tahun, di mana nilainya hari ini mencapai US$440 miliar.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut