Inovasi Salt Centre PHE WMO Percepat Produksi Garam

Inovasi Salt Centre Binaan PHE WMO Untuk Produktivitas Garam
Sumber :
  • PHE WMO

Bangkalan – PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), membuat inovasi dalam produksi garam. Dengan memanfaatkan teknologi baru, mereka bisa memproduksi garam jauh lebih banyak dan cepat dibandingkan produksi dengan cara konvensional.

img_title Mengupas Aplikasi Transformasi Digital UMKM, Inovasi yang Membantu Pelaku Usaha Bertahan di Tengah Persaingan

PHE WMO mengembangkan program Salt Centre Terintegrasi, di Desa Banyusangka, Kabupaten Bangkalan, Madura Jawa Timur. Pengembangan yang mulai dilakukan sejak 2018 itu, membuat produksi garam jauh lebih cepat dibanding dengan cara konvensional. Selain itu, produksinya juga jauh lebih banyak.

Inovasi Salt Centre PHE WMO Untuk Produktivitas Garam di Bangkalan Madura

Photo :
  • PHE WMO
img_title Rayu Toyota Relokasi Produksi ke RI, Purbaya Tawarkan Insentif

“PHE WMO mendukung upaya pemerintah mendukung produksi garam nasional dengan memberdayakan petani garam di Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan melalui inovasi dan pengembangan teknologi sehingga usaha garam rakyat semakin efisien, berkualitas dan menjadi komoditi strategis yang dapat meningkatkan kesejahteraan petambak garam khususnya dan masyarakat pesisir pada umumnya,” jelas GM Zona 11 Muzwir Wiratama.

Inovasi Sosial Salt Centre Terintergrasi PHE WMO

Photo :
  • Agus Rahmat
img_title Transformasi dan Inovasi Teknologi Makin Pesat, Investasi Modern Lewat AI & Riset Jadi Tren Baru

Produksi garam dengan Program Salt Centre ini, memperingkas waktu. Bila bisanya dilakukan secara konvensional adalah sekitar 28 hari tapi dengan teknologi ini diperingkas menjadi 14 hari.

Metodenya, air laut ditampung dalam kolam pertama dan didiamkan sekitar 3 hari. Setelah itu, air tersebut kemudian dialirkan ke kolam lainnya melalui alat filter. Air tersebut didiamkan lagi, sampai mencapai kadar NaCl garam tertentu minimal 22. 

Adapun teknologi yang diterapkan adalah dengan membuat roughing filter, rumah garam portable dan juga alat cuci garam. Penerapan teknologi tepat guna tersebut telah berhasil meningkatkan kualitas garam rakyat di Desa Banyusangka. Salah satu indikatornya adalah peningatan kadar NaCl garam di sana dari yang sebelum ada program hanya sekitar 56,12 % menjadi 94,07 % dan telah memenuhi standart garam konsumsi.

Air tua, atau air laut yang sudah ditempatkan di kolam dengan kadar garam 22 dalam kurun waktu tertentu, kemudian dilakukan kristalisasi. Yakni dengan menggunakan Siram Berbakat, yang merupakan inovasi teknologi kristalisasi garam berbahan bakar briket atau sampah yang tidak digunakan oleh masyarakat. Dari kristalisasi itu, dalam waktu 4-5 jam bisa menghasilkan 50 kg garam. 

“Program ini tidak hanya meningkatkan kapasitas petani garam sehingga lebih berdaya, namun lebih dari itu program ini telah mendorong terjadinya transformasi sosial, diantaranya menumbuhkan kemampuan petani garam untuk tidak tergantung pada cuaca,” jelas Field Manager PHE WMO Markus Pramudito.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut