Harga Bitcoin Stabil dan Cenderung Naik, Inikah Momen yang Tepat Buat Beli Kripto?
- CFO.com
Salah satu pertanyaan besar yang masih membayangi Bitcoin adalah, bagaimana jika pemerintah besar seperti AS memutuskan untuk melarang atau membatasi penggunaannya? Hougan mengacu pada sejarah, yakni keputusan pemerintah AS pada 1933 yang menyita kepemilikan emas pribadi untuk memperkuat cadangan negara.
Kekhawatiran ini juga berlaku bagi Bitcoin. Namun, ketidakpastian ini tampaknya telah teratasi awal bulan ini, di mana Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan US Strategic Bitcoin Reserve. Ini merupakan sebuah langkah, yang menurut Hougan, menandakan bahwa pemerintah AS kini secara resmi mengakui Bitcoin sebagai bagian dari strategi keuangan nasionalnya.
"Dan seketika itu juga, risiko eksistensial terakhir Bitcoin menghilang di depan mata saya," kata Hougan.
Meski begitu, beberapa pihak masih mempertanyakan keputusan ini, mengingat Bitcoin sering disebut sebagai ancaman terhadap status dolar AS sebagai mata uang cadangan global. Tapi, Hougan berpendapat bahwa AS melihat Bitcoin sebagai aset lindung nilai, bukan ancaman langsung terhadap dominasinya.
"Skenario terbaik adalah dolar tetap menjadi mata uang cadangan dunia. Namun, jika ada risiko dolar kehilangan dominasinya, Bitcoin adalah alternatif yang lebih dapat dikendalikan dibandingkan mata uang asing seperti yuan Tiongkok," jelas dia.
Dari sisi investor institusional, Bitwise mencatat adanya perubahan signifikan dalam strategi alokasi aset terhadap kripto. Jika dua tahun lalu investasi sebesar 1 pereen dalam Bitcoin sudah dianggap agresif, kini angka itu mulai mendekati 3 persen, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap aset ini. Hougan memprediksi bahwa angka tersebut akan terus bertambah.
"Seiring semakin banyak orang menyadari bahwa Bitcoin telah mengalami penurunan risiko yang signifikan, saya yakin alokasi ini bisa mencapai 5 persen atau lebih," ujarnya.
Saat berita ini ditulis, harga Bitcoin berada di level USS87.511 atau sekitar Rp1,45 miliar.
