Pakar: Kebijakan Tarif Trump Murni Politik AS Lawan China, RI Enggak Usah Ikutan

Presiden Donald Trump mengumumkan tarif masuk barang impor ke AS.
Sumber :
  • AP Photo/Evan Vucci

Jakarta, VoxPop – Rektor Universitas Paramadina yang juga Guru Besar Ilmu Ekonomi, Prof Didik J Rachbini menilai kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang membuat banyak negara kelimpungan, tidak sepenuhnya masalah ekonomi tapi akar masalahnya adalah urusan politik.

img_title Rupiah Menguat ke Rp 18.055 Meski Ekonom Proyeksi Ekonomi RI di Kuartal II-2026 Anjlok

Itu juga yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam forum sarasehan ekonomi bersama Presiden RI, bahwa kebijakan tarif resiprokal Trump sulit dipahami para ilmuwan ekonomi dan tidak ada landasan ilmu ekonominya. 

"Kebijakan ekonomi tidak lagi memadai atau bahkan bisa lagi diandalkan untuk menghadapi langkah politik presiden Amerika Serikat ini. Lalu untuk apa kita membuat kebijakan ekonomi terhadap masalah ekonomi, yang akarnya adalah politik dan terjadi di dalam sistem dan proses politik?" kata Didik J Rachbini kepada VoxPop, Kamis, 10 April 2025.

img_title BRI Hadirkan Akses Eksklusif Konser 35 Tahun Twilite Orchestra Lewat BRImo, Tiket Umum Sold Out dalam Satu Jam

Seluruh tatanan ekonomi dan perdagangan dunia yang didasarkan pada asas dan hukum ekonomi dengan sendirinya roboh dan ambruk, karena politik negara adidaya seperti Amerika Serikat.

Kontainer impor barang dari Taiwan menumpuk di Pelabuhan Los Angeles AS

Photo :
  • AP Photo/Damian Dovarganes
img_title Selain Bangun Fondasi Ekonomi Rakyat, Prabowo Dinilai Dorong Pengembangan Sumber Daya Manusia

Oleh karena itu, menurut Didik, respons kebijakan RI terkait tarif resiprokal Trump sebaiknya menukik ke akar masalahnya, yakni politik. Sebab, dampak ekonomi yang ditimbulkan dari kebijakan Trump merupakan produk kebijakan politik yang tidak berbasis asas dan hukum ekonomi. 

Pertama, kata Didik, antisipasi politik dan kebijakan pada level kesadaran (cognitive) para pengambil keputusan, dunia usaha dan masyarakan luas terhadap kenyataan proses politik dan demokrasi yang bisa melahirkan tokoh seperti Donald Trump. 

"Kita harus menyadari dan menerima kenyataan pahit dan rasa campur aduk bahwa proses politik dan demokrasi bisa mendadak menghasilkan orang aneh seperti Donald Trump. Produk turunannya adalah politik juga, yang tiba-tiba membuat kebijakan yang tidak masuk nalar teori dan asas hukum ekonomi," ujar pria yang juga pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef) itu.

Setelah menyadari masalah ini, pemerintah dalam hal ini presiden, harus mengambil jalan politik merespons akibat dan dampak dari tarif Trump.

Head to Head AS Vs China

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut