Modal Kerja Negatif, KFC Minta Suntikan Rp 80 Miliar ke Gelael dan Grup Salim

Berbagai Produk Makanan KFC
Sumber :
  • Tokopedia

Jakarta, VoxPop – Emiten pengelola restoran waralaba KFC, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), menyampaikan permintaan suntikan modal hingga Rp 80 miliar kepada PT Gelael Pratama dan PT Indoritel Makmur International Tbk (DNET), yang merupakan salah satu emiten Grup Salim

img_title Laba BUMI Melonjak 188 Persen, Emiten Bakrie-Salim Raup Untung US$58,85 Juta pada Semester I-2026

Melalui Keterbukaan Informasi BEI, Manajemen menjelaskan bahwa permintaan suntikan modal itu dilakukan usai FAST mencatatkan modal kerja negatif, dan rencananya akan dilakukan melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.

FAST akan menerbitkan sebanyak- banyaknya 533,33 juta saham baru, dengan nilai nominal sebesar Rp 50 per saham. Rencana PMTHMETD ini akan dimintai persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), yang akan digelar pada 16 Mei 2025, dan akan dilaksanakan paling lambat 20 Juni 2025.

img_title Bos BI Laporkan Sebanyak US$8,5 Miliar Modal Asing Masuk RI di Kuartal II-2026

Nantinya, PT Gelael Pratama dan DNET akan melakukan penyetoran modal kepada FAST melalui private placement, dan telah menetapkan harga pelaksanaan senilai Rp 150 per saham. Sehingga, dipastikan bahwa FAST akan memperoleh dana sebesar Rp 80 miliar dari aksi korporasi tersebut, yang akan digunakan untuk membayar utang dan menambah modal usaha 

"Penetapan harga pelaksanaan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dulu (PMTHMETD) dengan mempertimbangkan harga perdagangan saham selama 25 hari terakhir, dan memberikan sejumlah diskon kepada pemegang saham yang berpartisipasi dalam PMTHMETD," kata Manajemen FAST dalam keterangannya, Kamis, 15 Mei 2025.

img_title POJK Baru BPR Perkuat Permodalan Tekan Risiko Operasional

Gerai KFC

Photo :
  • Logo My Way

Apabila private placement telah dilakukan, kepemilikan saham FAST oleh PT Gelael Pratama akan meningkat menjadi 41,18 persen dari sebelumnya 40 persen. Sementara DNET akan menguasai 37,51 persen saham FAST dari sebelumnya sebanyak 35,84 persen. Di sisi lain, kepemilikan saham investor lain berisiko terdilusi 11,79 persen.

Laporan keuangan FAST per 31 Desember 2024 mencatat, modal kerja bersih FAST dilaporkan berada dalam kondisi negatif sebesar Rp 1,67 miliar, dengan total liabilitas jangka pendek konsolidasian FAST sebesar Rp 2,29 miliar.

"Modal kerja bersih perseroan adalah negatif Rp 1.675.315.520 disebabkan oleh tingginya nilai liabilitas jangka pendek perseroan yang terdiri dari utang bank, utang usaha, dan utang lain-lain. Perseroan mempunyai liabilitas sebanyak 96 persen dari aset yang dimilikinya," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut