The Matchmaker: Strategi Kolaborasi Hadapi PHK Massal dan Ancaman AI di Indonesia
- VoxPop.co.id/Natania Longdong
Jakarta, VoxPop – Di tengah badai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan gempuran otomatisasi akibat kecerdasan buatan (AI), Indonesia tengah berpacu dengan waktu untuk menghindari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.
Salah satu buku “The Matchmaker” karya Dr. Erwin Suryadi, menawarkan strategi berbasis kolaborasi untuk menghadapi ancaman ekonomi dan ketimpangan tenaga kerja.
Buku yang dibedah dalam forum diskusi di Jakarta ini menyoroti perlunya pendekatan inovatif di tengah ketidakpastian global, dari tekanan ekonomi hingga konflik geopolitik dan transisi energi.
Erwin menekankan bahwa Indonesia harus memanfaatkan bonus demografi secara cermat agar tidak berubah menjadi beban ekonomi.
“Bonus demografi tidak akan berarti jika kita tidak menciptakan ekosistem yang mampu menyerap dan memberdayakan talenta lokal. Kita memerlukan pendekatan yang lebih dari sekadar mempertemukan supply & demand,” kata Erwin dalam keterangannya, Sabtu 31 Mei 2025.
Ilustrasi job fair.
- VoxPop/Muhamad Solihin
Erwin juga menyoroti ancaman hilangnya berbagai jenis pekerjaan dalam lima tahun ke depan, terutama karena otomatisasi yang menggerus sektor-sektor seperti perbankan, akuntansi, hingga administrasi.
"Pekerjaan seperti teller bank, kasir, entri data, akuntansi, hingga staf pembukuan adalah contoh yang mulai tergantikan. Ini akan menjadi persoalan baru bagi ketenagakerjaan, jika tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat,” ujar Erwin.
Melalui konsep business matchmaking, Erwin mengusulkan model kolaborasi jangka panjang antara pelaku industri besar, pabrikan lokal, UMKM, dan lembaga pendidikan.
Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kualitas produk, efisiensi biaya, dan ketepatan pengiriman melalui pendampingan dan integrasi ekosistem.
Ia pun mengaitkan pendekatan ini dengan pandangan begawan ekonomi Prof. Soemitro Djojohadikusumo, yang menolak pasar bebas tanpa regulasi di negara berkembang.
“Dalam pandangan Soemitro, pasar tidak akan bekerja adil tanpa kehadiran negara sebagai pengatur dan pelindung pelaku ekonomi lokal. Prinsip ini sejalan dengan business matchmaking, yang menuntut peran aktif, yang memberikan mandat kepada pelaku industri besar untuk ikut membina pelaku lokal agar mampu bersaing secara sehat dan setara,” jelasnya.
Job Market Fair 2017 di Surabaya
- ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Konsep ini bukan sekadar teori. Forum Kapasitas Nasional yang digagas SKK Migas sejak 2021 telah menjadi buktinya. Erwin mencatat kemajuan signifikan industri hulu migas saat pelaku besar bersedia mempercayai pabrikan lokal.
