NVidia Butuh China
- VoxPop/Lazuardhi Utama
Jakarta, VoxPop – Produsen chipset asal Amerika Serikat (AS), NVidia, berencana untuk melanjutkan penjualan produknya yang berbasis kecerdasan buatan (AI) ke China yang telah menjadi bagian dari perlombaan global yang mempertemukan negara-negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Pengumuman tersebut diungkapkan langsung oleh Kepala Eksekutif NVidia, Jensen Huang, usai bertemu Presiden Donald Trump di Gedung Putih, Washington DC.
Ia berpendapat bahwa pembatasan penjualan teknologi AS ke China justru dapat membahayakan posisi Paman Sam sebagai pemimpin AI global.
"Pembatasan juga menyebabkan kerugian pendapatan miliaran dolar AS," tegas Huang, seperti dikutip dari situs CNN, Rabu, 16 Juli 2025.
Sementara AMD, produsen chipset besar lainnya, mengaku berencana untuk memulai kembali penjualan produk berbasis AI mereka ke negeri Tirai Bambu.
"Kami baru-baru ini diberitahu oleh Departemen Perdagangan bahwa permohonan lisensi untuk mengekspor produk MI308 ke China akan dilanjutkan untuk ditinjau. Kami berencana untuk melanjutkan pengiriman setelah lisensi disetujui. Kami mengapresiasi kemajuan yang dicapai oleh Pemerintahan Trump dalam memajukan negosiasi perdagangan dan komitmennya terhadap kepemimpinan AI AS," demikian menurut keterangan resmi AMD.
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar. Namun, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa kontrol ekspor Nvidia telah menjadi "alat negosiasi" dalam perundingan dagang AS-China yang lebih besar, di mana kedua negara telah membuat kesepakatan untuk menurunkan tarif yang dikenakan satu sama lain.
Sedangkan, Menteri Perdagangan Howard Lutnick mengatakan bahwa dimulainya kembali penjualan chipset AI NVidia ke China merupakan bagian dari perjanjian dagang dengan Beijing terkait logam tanah jarang (rear earth minerals).
Kendali China terhadap ekspor tanah jarang menjadi fokus utama dalam perundingan dagang antara Beijing dan Washington di London, Inggris, bulan lalu.
Sebagai imbalan atas peningkatan pengiriman sumber daya penting tersebut, AS juga setuju untuk mencabut pembatasan ekspor perangkat lunak perancangan mikrochip, etana, dan mesin jet.
NVidia adalah perusahaan paling berharga di dunia, dan minggu lalu menjadi perusahaan publik pertama yang mencapai valuasi US$4 triliun, berkat perannya di pasar kecerdasan buatan.
