Serangan Siber Kini Sehalus Manipulasi Psikologis, Lawan dengan AI
- Dok. Datacomm
Laporan global dari Team8 yang membuktikan kekhawatiran tersebut. Satu dari empat CISO (Chief Information Security Officer) mengaku telah mengalami serangan siber berbasis AI dalam satu tahun terakhir.
Angka tersebut kemungkinan masih di bawah angka riil, karena sebagian besar ancaman AI meniru perilaku manusia dan hanya bisa dideteksi dengan advanced metrics, seperti time to exploitation dan velocity indicators.
DTrust dari PT Datacomm Diangraha merupakan unit Managed Security Service Provider berbasis cloud. Sebagai solusi keamanan, DTrust menawarkan perlindungan sistem berbasis AI untuk menjawab tantangan social engineering.
Teknologi yang ditawarkan DTrust mampu:
- Mendeteksi, mengantisipasi, dan merespons ancaman secara real-time.
- Mengidentifikasi pola scam dan phishing dengan akurasi tinggi.
- Melindungi reputasi dari serangan berbasis manipulasi sosial.
- Mengotomatiskan pemulihan sistem dan isolasi ancaman dalam hitungan detik.
Tak hanya itu, DTrust juga menyiapkan program edukasi dan pelatihan untuk membekali organisasi menghadapi ancaman siber berbasis rekayasa sosial.
“Keamanan siber berbasis AI bukan lagi sekadar opsi, tetapi kebutuhan strategis untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks dan cepat. Dengan dukungan AI, kita dapat berpindah dari pendekatan reaktif ke proaktif—mengantisipasi, mengintervensi, dan menghentikan serangan sebelum berdampak signifikan,” tutur Muhammad Haikal Azaim.
3 langkah mendesak
Menyikapi tren ini, PT Datacomm Diangraha mendorong organisasi di seluruh Indonesia untuk segera:
1. Beralih ke sistem keamanan siber berbasis AI.
2. Meningkatkan kesadaran keamanan digital di tingkat individu maupun organisasi.
3. Menyusun kebijakan keamanan yang menyentuh aspek sosial, teknis, dan operasional secara menyeluruh.
