6 dari 10 Perusahaan Bakal Lakukan PHK pada 2026, Ketidakpastian Ekonomi dan AI Jadi Biang Kerok
- pexels.com/Pixabay
Jakarta, VoxPop – Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi sorotan. Setelah beberapa tahun menghadapi tekanan inflasi, perubahan kebijakan perdagangan, serta lonjakan adopsi teknologi, banyak perusahaan kini lebih berhati-hati dalam mengelola tenaga kerja.
Kondisi ini membuat strategi efisiensi menjadi prioritas, termasuk melalui pengurangan karyawan atau pembatasan perekrutan.
Sebuah survei terbaru dari platform Resume.org, memberikan gambaran yang cukup mengkhawatirkan bagi pekerja. Sebanyak 58% perusahaan di Amerika Serikat berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2026.
Melansir dari CPA, Jumat, 19 September 2025, angka tersebut menunjukkan tren pelemahan di pasar tenaga kerja, meski permintaan akan keterampilan baru, terutama di bidang kecerdasan buatan (AI), terus meningkat.
Alasan Utama PHK: Ekonomi, Tarif, dan AI
Ilustrasi pengangguran.
- Freepik
Survei terhadap 1.000 pemimpin bisnis AS itu mengungkap bahwa 55% perusahaan menyebut ketidakpastian ekonomi sebagai pendorong utama PHK tahun ini. Selain itu, 39% menyoroti kekhawatiran terhadap kebijakan tarif dan perdagangan, sementara 35% menyebut adopsi AI sebagai faktor yang mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia.
Pada 2026, potensi PHK diperkirakan makin tinggi. Dari total perusahaan yang disurvei, 26% menilai PHK sangat mungkin terjadi, dan 32% menyebut kemungkinan tersebut cukup besar. Penyebabnya masih didominasi oleh kekhawatiran atas tarif dan perdagangan (48%) serta kondisi ekonomi global (47%).
Tren Perekrutan yang Melambat
Tak hanya soal PHK, laju perekrutan juga menunjukkan perlambatan. Survei mencatat 9% perusahaan telah memberlakukan pembekuan perekrutan, sementara 41% mengurangi jumlah perekrutan baru. Hanya 9% perusahaan yang menambah tenaga kerja sepanjang tahun ini.
Bagi perusahaan yang menahan ekspansi tenaga kerja, 63% menyalahkan kondisi ekonomi, 38% karena kebijakan tarif dan perdagangan, 35% akibat penurunan pendapatan, dan 22% menyebut adopsi AI mengurangi kebutuhan staf.
Siapa yang Paling Berisiko Kehilangan Pekerjaan?
Survei juga menyoroti kelompok pekerja yang paling rentan terkena PHK. 48% pemimpin bisnis mengatakan pekerja dengan gaji tinggi paling mungkin terdampak, disusul 46% pekerja yang tidak memiliki keterampilan terkait AI, 42% pekerja baru, dan 41% karyawan level pemula.
Faktor demografis juga berperan: 30% perusahaan menilai pekerja muda lebih rentan, 29% menyebut pekerja senior dianggap kurang adaptif, dan 19% menilai pemegang visa kerja H1B berisiko karena biaya administrasi tambahan.
