Fenomena Gen Z Menganggur Setelah Lulus Kuliah, Ini Biang Keroknya Menurut Pakar

Ilustrasi wisuda/lulus kuliah.
Sumber :
  • Pixabay/McElspeth

Jakarta, VoxPop – Belakangan ini, fenomena tingginya pengangguran di kalangan lulusan baru menjadi sorotan. Gen Z, yang baru menapaki dunia kerja, kini menghadapi realita yang cukup menantang, yaitu sulitnya menemukan pekerjaan sesuai harapan. 

img_title 3 Aplikasi AI untuk Transkrip Video 2026, Ketika Editing dan Dokumentasi Menjadi Lebih Efisien

Teknologi AI yang semakin berkembang, faktor struktural lain, termasuk jumlah sarjana yang terus meningkat, turut memengaruhi fenomena ini.

Sebagaimana diketahui, beberapa dekade terakhir, banyak orang tua mendorong anak-anak mereka untuk menempuh pendidikan tinggi. Akibatnya, persentase tenaga kerja dengan gelar sarjana kini lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

img_title HP Android Sedang Mengalami Revolusi Besar, AI Menjadi Alasan Utama Banyak Orang Mulai Upgrade Smartphone

Menurut catatan Ed Yardeni, Presiden dan Chief Investment Strategist di Yardeni Research, pengangguran di kalangan lulusan baru berusia 22 hingga 27 tahun dulunya lebih rendah dibandingkan tingkat pengangguran keseluruhan. Namun, sejak sekitar 2015, tren ini mulai berubah, jauh sebelum chatbot OpenAI muncul pada akhir 2022 dan gelombang generatif AI berikutnya.

Data dari New York Fed menunjukkan, tingkat pengangguran lulusan baru sempat melampaui rata-rata nasional pada Desember 2014, yaitu 5,6% dibandingkan 5,5%. Selama bertahun-tahun, kedua angka ini sempat saling menukar posisi. 

img_title AI Mulai Masuk Pasar Mobil Bekas, Apa Untungnya Buat Konsumen?

Ilustrasi pengangguran.

Photo :
  • Freepik

Namun saat pandemi, pengangguran lulusan baru konsisten lebih tinggi dari rata-rata, dan sejak awal 2022, perbedaan ini semakin melebar. Sebagai perbandingan, tingkat pengangguran semua sarjana dari segala usia tetap lebih rendah daripada rata-rata nasional selama minimal 35 tahun. 

Data terbaru menunjukkan, pada Juni 2025, tingkat pengangguran lulusan baru mencapai 4,8%, sementara semua pekerja hanya 4,0%. “Kenapa terjadi perubahan ini? Mungkin karena jumlah orang berpendidikan sarjana di tenaga kerja kini meningkat, sehingga pendatang baru bersaing dengan sarjana berpengalaman,” kata Yardeni, seperti dikutip dari Fortune, Selasa, 23 September 2025.

Yardeni menambahkan, persentase orang Amerika dengan gelar sarjana kini 37,5%, naik dari 25,6% pada 2000. Antara 1993–2023, jumlah lulusan perguruan tinggi melonjak 74,9%, sementara yang hanya tamat SMA meningkat 14%.

Analisis lain dari New York Fed menunjukkan lulusan jurusan teknik komputer, ilmu komputer, fisika, dan sistem informasi & manajemen memiliki tingkat pengangguran lebih tinggi dibanding pekerja secara keseluruhan. “Ini menunjukkan terlalu banyak anak muda memilih jurusan komputer dan menghadapi kesulitan lebih dari yang diperkirakan,” jelas Yardeni.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut