Suku Bunga Turun, Harga Bitcoin Melorot: Simak Analisis Mengejutkannya
- freepik.com/freepik
Selain itu, lanjut dia, potensi lonjakan inflasi atau mulai menguatnya dolar AS, juga dapat memicu berkembangnya sentimen negatif dengan risiko koreksi Bitcoin ke bawah US$100 ribu (Rp1,6 miliar).
Bagi investor di Indonesia, proyeksi penurunan suku bunga The Fed di sisa tahun ini membuka prospek diversifikasi ke aset risk-on. Walau demikian, masih terdapat kecenderungan volatilitas tinggi pada Bitcoin.
Oleh karena itu, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) bisa lebih strategis dibanding investasi atau trading sekaligus dalam jumlah besar.
Perlu diingat bahwa pasar aset kripto kini tidak bisa dipisahkan dari dinamika makro global, sehingga investor perlu memantau bukan hanya harga Bitcoin, tapi juga indikator likuiditas dolar AS dan arus dana institusional.
Dalam melakukan DCA, investor dapat mengoptimalkan fitur yang memudahkan berinvestasi ke aset kripto dan saham AS potensial.
Misalnya, melalui fitur Packs di Reku yang memungkinkan investor bisa berinvestasi pada berbagai crypto blue chip dan ETF Saham AS dengan performa terbaik dalam sekali swipe untuk memudahkan diversifikasi.
"Fitur Packs dilengkapi dengan sistem Rebalancing akan membantu investor menyesuaikan alokasi investasinya sesuai dengan kondisi pasar secara otomatis. Dengan begitu, strategi DCA yang dilakukan dapat lebih mudah, praktis, dan optimal," jelas Fahmi.
