Waspadai Shutdown AS, BI Siapkan Jurus Jaga Stabilitas Rupiah

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Sumber :
  • Pixabay/IqbalStock

Bukittinggi, VoxPop – Di tengah dinamika ekonomi global yang terus bergejolak, Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat likuiditas perbankan. Shutdown pemerintahan Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor eksternal yang saat ini tengah diwaspadai oleh otoritas moneter. 

img_title Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.300 per Dolar AS Pekan Depan, Pengamat Ungkap Penyebabnya

Ada potensi meningkatnya defisit fiskal AS dan tekanan terhadap pasar keuangan global, BI menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan perekonomian domestik tetap tangguh dan stabil menjelang akhir 2025.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa ketidakpastian global, termasuk shutdown di AS, dapat berdampak signifikan terhadap ekspektasi pasar dan pergerakan nilai tukar. 

img_title BI Disebut Tak Fokus Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Destry: Salah itu, Kami Tetap Konsen

“Ini akan berdampak ke ekspektasi yield, kemudian juga ke unemployment. Pengangguran yang tinggi itu bukan hanya terkait dengan kebijakan imigran, dan adanya pengurangan tenaga kerja, tapi juga ada dari government shutdown itu,” ujarnya saat diskusi media di Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat, 24 Oktober 2025.

Menurut Juli, kondisi tersebut dapat memicu volatilitas di pasar keuangan global yang pada akhirnya menular ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia menambahkan, efek domino dari kebijakan fiskal AS dan meningkatnya pengangguran dapat memperburuk sentimen risiko global. 

img_title PGS BI Destry Beberkan Strategi Hadapi Era Suku Bunga Tinggi di Dunia

"Ini akan dampaknya ke pasar keuangan global, termasuk Indonesia, bisa ke kurs dan lain-lain," sambungnya. 

Menghadapi potensi tekanan tersebut, Bank Indonesia tetap mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025. Keputusan ini sejalan dengan upaya menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1 persen serta menstabilkan nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang tinggi. 

Selain itu, BI juga memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong likuiditas dan penyaluran kredit agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Juli menjelaskan, BI terus menyesuaikan instrumen moneter agar efektif dalam menjaga stabilitas Rupiah sekaligus memperdalam pasar keuangan. “SRBI ini sebagai instrumen moneter akan tetap ada, karena memang sebagai instrumen moneter bahwa akan ditambah dengan BIFRN, itu lebih untuk memperkaya instrumen untuk memperdalam pasar,” ujarnya.

Selain SRBI, BI juga berencana memperluas jenis underlying asset dalam operasi moneternya untuk memperkuat transmisi kebijakan. “Sekarang kita akan coba perluas kepada surat berharga yang lain yang berkualitas tinggi. Niatnya adalah perluasan ini bagaimana upaya ini bisa terus mendukung pendalaman pasar keuangan di Indonesia,” kata Juli.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut