Rival ChatGPT Kasih Kabar Kurang Enak soal AI meski Hubungannya sama Manusia dalam 'Fase Bulan Madu'

Deepseek.
Sumber :
  • South China Morning Post

Jakarta, VoxPop – Perusahaan rintisan atau startup kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) asal China, DeepSeek, mendadak muncul dalam World Internet Conference di Wuzhen, Zhejiang.

img_title AI Mulai Masuk Pasar Mobil Bekas, Apa Untungnya Buat Konsumen?

Kemunculan ini terbilang langka karena rival ChatGPT tersebut memilih tampil tidak menjadi sorotan publik.

Dikutip VoxPop dari SCMP, Senin, 17 November 2025, peneliti senior DeepSeek Chen Deli menegaskan komitmennya untuk mengembangkan kecerdasan buatan umum (artificial general intelligence/AGI).

img_title Xpeng Pamer Teknologi AI Lewat X9 dan G6 Pro AWD

Meski begitu, ia mengakui teknologi tersebut berpotensi memunculkan dampak berbahaya. Deli juga mengakui tidak berlebihan jika AGI dianggap membahayakan.

Kekhawatiran serupa sempat diangkat dalam surat terbuka bulan lalu yang menyerukan pelarangan pengembangan AI superintelligence sebelum ada dukungan publik dan konsensus ilmiah yang kuat.

img_title 10 Keunggulan Aplikasi AI dalam Dunia Kerja, Dari Menyusun Strategi hingga Membantu Pengambilan Keputusan Lebih Cepat

Menurutnya, permintaan memperlambat atau menghentikan pengembangan AI tidak realistis.

"Saya optimistis dengan teknologinya tapi pesimistis dengan dampaknya terhadap masyarakat. Dengan insentif keuntungan yang begitu besar, revolusi AI justru dianggap berhasil ketika sebagian besar pekerjaan manusia bisa digantikan," jelas dia.

Deli menilai hubungan manusia dan AI saat ini masih dalam 'fase bulan madu'. Namun, ia memperingatkan dalam jangka panjang, mayoritas pekerjaan bisa sepenuhnya tergantikan dengan AI.

Ia pun mendorong perusahaan AI agar terbuka kepada publik soal pekerjaan yang paling cepat tergantikan.

"Manusia pada akhirnya akan terbebas dari pekerjaan. Kedengarannya bagus, tapi itu justru bisa mengguncang pondasi masyarakat," tuturnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai kecerdasan buatan (AI) tidak dapat sepenuhnya menggantikan manusia, sebab komunikasi manusia bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga lewat gestur dan ekspresi tubuh.

Perkembangan kecerdasan buatan telah menghadirkan disrupsi di berbagai bidang, termasuk dalam cara berkomunikasi.

Dengan teknologi AI generatif, proses produksi konten, baik berupa teks, gambar, maupun video, bisa dilakukan dengan cepat dan meminimalkan keterlibatan manusia.

Namun, di balik kecanggihan teknologi AI yang mendekati kemampuan manusia, AI masih memiliki kelemahan utama, yaitu tidak memiliki empati dan kemampuan berpikir kritis.

"Satu hal yang membuat manusia berbeda dengan mesin ini adalah kemampuan empati dan kemampuan critical thinking," ungkap Wamenkomdigi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut