Jerman Dibuat Pusing Tujuh Keliling

Bendera Jerman.
Sumber :
  • freepik/bearfotos

Jakarta, VoxPop – Suatu hari di tahun 2018, Horst Kreuter, geolog Jerman, dan Francis Wedin, geolog Australia, menatap panasnya mata air di barat daya Jerman.

img_title 3 Hal Ini Jadi Sorotan China dalam Tantangan Tata Kelola Iklim Global

Dari sana lahirlah ide, yaitu mengekstrak lithium sekaligus menghasilkan listrik dan panas. Dari gagasan itu lahirlah Vulcan Energy, startup yang diprediksi bisa memenuhi lebih dari 40 persen kebutuhan lithium Eropa. Namun, dunia investasi Jerman menertawakan idenya itu.

"Kami mendatangi investor lokal, bahkan ke bursa Frankfurt, mereka menertawakan ide kami. Sayang, investor Australia justru menunjukkan ketertarikan," kata Kreuter, seperti dikutip dari situs DW, Rabu, 19 November 2025.

img_title Ketum PSSI: China Ikut Berebut Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup

Harga bukan segalanya

Meski Vulcan Energy berhasil memperoleh izin membangun fasilitas komersial, perusahaan Jerman lebih memilih membeli lithium murah dari China. Sebaliknya, investor Prancis, Belgia, dan Korea Selatan justru sudah memenuhi buku pesanan startup itu untuk sepuluh tahun ke depan.

img_title Intelijen AS Sebut China 'Miliki' Data 220 Juta Pemilih Pemilu

"Perusahaan Jerman lupa bahwa mereka juga harus berinvestasi agar sumber daya tersedia di dalam negeri," tegas Kreuter. Jika memproduksi lithium saja sudah sulit, Logam Tanah Jarang (rare Earth) bahkan lebih dramatis.

China saat ini menguasai pasar dunia untuk penambangan dan pengolahan rare Earth. Beijing sudah sejak lama meniti dominasi dengan rajin membeli konsesi tambang di luar negeri, dan memperkuat kapasitas domestik.

Pada 9 Oktober 2025, Pemerintah China memperketat kontrol ekspor, termasuk kemungkinan penghentian total penjualan logam tanah jarang untuk negara-negara Barat.

"Tanpa bahan baku ini, tidak ada yang bisa dilakukan di sini. Motonya saat ini bukanlah bersantai, melainkan bergegas," kata Nicola Beer, wakil direktur Bank Investasi Eropa (EIB).

Uni Eropa menyadari risiko itu. Bank Investasi Eropa (EIB) menyiapkan dana awal 2 miliar Euro (hampir Rp39 triliun) untuk membebaskan Eropa dari ketergantungan ekspor China. Investasi ini mencakup penambangan, pengolahan, daur ulang, dan substitusi logam tanah jarang. Sementara di dalam negeri, pemerintah Jerman baru tersadar.

"Kita menyaksikan pergeseran tektonik pusat kekuasaan dunia. Strategi memperkuat teknologi kini menjadi soal keamanan nasional. Apakah kita sebagai orang Jerman atau Uni Eropa akan punya kesempatan untuk melindungi kemerdekaan kita, kemakmuran, keamanan dan yang tak kalah penting demokrasi di dunia yang berubah kian dramatis ini? Pertanyaan ini belum terjawab," ungkap Kanselir Friedrich Merz.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut