Prancis Lagi Memelas ke China supaya Tidak Keras
- Bloomberg/Krisztian Bocsi
Beijing memanfaatkan peluang untuk menampilkan diri sebagai mitra bisnis di tengah tarif perdagangan dari AS yang menekan arus perdagangan global.
Hal ini diharapkan meredakan kekhawatiran Eropa atas dukungan China terhadap Rusia serta model industrinya yang disubsidi negara.
Menjelang kunjungan kenegaraan itu, para penasihat Emmanuel Macron menyatakan perlunya mendorong penyeimbangan dinamika perdagangan agar China meningkatkan konsumsi domestik.
Para penasihatnya pun berharap Beijing bisa “bagi-bagi keuntungan dari inovasi yang dihasilkan,” sehingga Uni Eropa bisa memperoleh akses ke teknologi China.
Prancis berupaya menarik lebih banyak investasi dari perusahaan-perusahaan China dan memfasilitasi akses pasar bagi ekspor Prancis.
Selama kunjungan tersebut, pejabat dari kedua negara diperkirakan akan menandatangani beberapa perjanjian di sektor energi, industri makanan, dan penerbangan.
"Presiden berkomitmen untuk memperjuangkan “akses pasar yang adil dan timbal balik,” demikian keterangan resmi juru bicara Kepresidenan Prancis, seperti dikutip dari situs DW.
Prancis akan menjadi tuan rumah KTT Kelompok Tujuh (G7) pada 2026 yang melibatkan pihak ekonomi-ekonomi terkemuka dunia, sementara China akan memimpin forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation/APEC) yang beranggotakan 21 negara, termasuk AS, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Rusia.
Blok 27 negara ini mengalami defisit perdagangan besar dengan China, berkisar lebih dari 300 miliar Euro (Rp5.806 triliun) pada 2024. Beijing mewakili 46 persen dari total defisit perdagangan Prancis. Ya, Prancis dan Uni Eropa telah menggambarkan China sebagai mitra, pesaing, dan juga rival sistemik.
