Bitcoin vs XRP, Mana yang Paling Berpotensi Cuan di 2026? 

Bitcoin.
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VoxPop – Investasi di kripto kembali menjadi perbincangan hangat, terutama antara dua koin populer, yaitu Bitcoin (BTC) dan XRP. Keduanya menghadirkan mekanisme, tujuan, dan potensi yang berbeda, sehingga investor harus jeli memilih mana yang lebih menguntungkan untuk dibeli saat ini. 

img_title Ekosistem Kripto dan Blockchain Bisa Diperkuat Pemahaman Quantum Computing, Ini Penjelasannya

Sejak awal tahun, harga Bitcoin turun 2 persen, sementara XRP tergerus 8 persen. Ini lantaran inflasi yang tetap tinggi, imbal hasil Treasury yang meningkat, dan ketidakpastian ekonomi global.

Bitcoin, mata uang kripto terbesar di dunia, masih ditambang melalui mekanisme proof-of-work (PoW) yang membutuhkan energi besar, dan memiliki suplai maksimum 21 juta token, di mana 19,9 juta sudah ditambang. Setiap empat tahun, hadiah penambangan Bitcoin dibagi dua, yang membuat token terakhir baru bisa ditambang pada 2140. 

img_title Bitcoin Sentuh US$65.500, Investor Perlu Cermati Sederet Faktor Fundamental yang Pengaruhi Pasar Kripto

Mekanisme ini membuat Bitcoin semakin langka dan sering dibandingkan dengan emas atau perak sebagai aset lindung inflasi. Sejak tahun lalu, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menyetujui peluncuran ETF berbasis harga spot Bitcoin, menarik perhatian investor ritel, institusi, korporasi, hingga pemerintah. Semua faktor itulah katalis yang bisa mendorong kenaikan harga Bitcoin.

XRP.

Photo :
  • Ist
img_title Investasi Bitcoin vs Emas, Mana yang Bikin Cepat Kaya? Begini Perbandingan Keuntungan dan Risikonya

Meski begitu, analis menyoroti bahwa Bitcoin sulit menembus pembayaran mainstream tanpa stabilisasi harga. Melansir dari The Motley Fool, Senin, 8 Desember 2025, konsumsi energi penambangan yang tinggi juga menjadikannya kurang ramah lingkungan dibanding token proof-of-stake (PoS) seperti Ether (ETH), yang tidak ditambang. 

Selain itu, Bitcoin tidak mendukung smart contract, yang digunakan untuk membangun aplikasi terdesentralisasi dan aset kripto lainnya, membuatnya kalah menarik dibanding blockchain yang fokus pada pengembang seperti Ethereum. 

Stablecoin yang sebagian besar dikaitkan dengan dolar AS juga bisa menjadi alternatif pembayaran berbasis blockchain yang lebih murah dan cepat. Di masa depan, teknologi komputasi kuantum berpotensi memecahkan enkripsi Bitcoin, yang bisa mengguncang fondasinya dan menekan harga secara drastis.

Sementara itu, XRP adalah token yang berbeda sama sekali. Semua token XRP telah dicetak sebelum diluncurkan ke publik oleh Ripple Labs, perusahaan fintech yang membangunnya. 

Ripple awalnya memegang 80 miliar token, menjual sebagian untuk mendanai ekspansi, yang memicu gugatan SEC pada 2020 karena dianggap menjual XRP tanpa izin sebagai sekuritas. Akibatnya, Ripple kehilangan sejumlah klien fintech utama dan beberapa bursa besar men-delist XRP. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut