Lebih dari 10.000 Perusahaan di Jepang Bangkrut pada 2025, Ada Apa?
- Freepik
Lembaga riset kredit tersebut menilai bahwa tren ini mengindikasikan rapuhnya fondasi bisnis kecil di Jepang, meski secara agregat nilai kerugian utang terlihat menurun.
Tantangan Berlanjut di 2026
Teikoku Databank memperingatkan bahwa tekanan terhadap dunia usaha belum akan mereda dalam waktu dekat. Kenaikan harga dan kekurangan tenaga kerja diperkirakan masih akan terus mendorong kebangkrutan sepanjang tahun ini, terutama di kalangan usaha kecil.
Lembaga tersebut menekankan bahwa salah satu poin krusial yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana perusahaan mampu menghadapi rencana kenaikan upah minimum. Selain itu, kemampuan perusahaan untuk mengamankan tenaga kerja juga menjadi faktor penentu keberlangsungan bisnis.
Bagi banyak pelaku usaha kecil, kenaikan upah minimum menjadi dilema. Di satu sisi, kebijakan tersebut penting untuk menjaga daya beli dan kesejahteraan pekerja. Namun di sisi lain, margin keuntungan yang semakin tipis membuat perusahaan kesulitan menanggung biaya tambahan.
Lonjakan kebangkrutan perusahaan menjadi sinyal peringatan bagi ekonomi Jepang yang tengah berupaya menjaga momentum pemulihan. Tanpa dukungan kebijakan yang mampu menekan biaya usaha dan memperbaiki pasokan tenaga kerja, risiko gelombang kebangkrutan lanjutan tetap terbuka.
