Miris! Cari Kerja Makin Sulit di 2026, Pekerja Terpaksa Ambil Banyak Job Freelance Demi Bertahan Hidup

Ilustrasi Freelance Writing/Editing
Sumber :
  • pexels.com/Leeloo The First

Jakarta, VoxPop – Mencari pekerjaan tetap pada 2026 bukanlah perjuangan yang mudah. Di atas kertas, tingkat pengangguran memang tampak relatif stabil, namun di balik angka tersebut, banyak pekerja justru terjebak dalam situasi setengah bekerja, alias punya pekerjaan, tapi bukan penuh waktu, penghasilan yang kurang memadai dan stabil, serta tidak cukup aman untuk jangka panjang.

img_title Identitas 4 Pekerja Proyek Jalan Korban Penyerangan KKB di Tolikara

Kondisi pasar kerja yang stagnan membuat banyak orang berhenti menunggu pekerjaan penuh waktu yang ideal. Alih-alih menanti lowongan yang belum tentu datang, mereka memilih jalan yang lebih realistis, yaitu mengambil pekerjaan lepas alias freelance, atau menggabungkan beberapa sumber penghasilan sekaligus untuk menutup kebutuhan hidup.

Data pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa peluang kerja penuh waktu semakin terbatas. Perekrutan berada di level terendah sejak April 2020, dan jika pandemi dikecualikan, merupakan yang terendah sejak 2013. Artinya, meski orang ingin bekerja penuh waktu, pintu masuknya makin sempit.

img_title Menaker Yassierli Tegaskan Penyandang Disabilitas Harus dapat Peluang Kerja Setara

Akibatnya, banyak pekerja akhirnya mengambil apa pun yang tersedia. Pada bulan terakhir, 8,8 juta orang tercatat bekerja lebih dari satu pekerjaan, setara dengan 5,4 persen dari total pekerja, bahkan lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi. Selain itu, 5,3 juta orang bekerja paruh waktu karena alasan ekonomi, bukan karena pilihan pribadi.

Secara teknis mereka dianggap “bekerja”, karena tingkat pengangguran utama hanya 4,4 persen. Namun kenyataannya, banyak dari mereka masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

img_title KKB Serang Pekerja Proyek Jalan di Tolikara, 5 Orang Tewas

Dalam kondisi seperti ini, freelance dan kerja lepas menjadi solusi paling masuk akal. Bukan karena fleksibilitas semata, melainkan karena sulitnya mendapatkan satu pekerjaan penuh waktu yang cukup untuk hidup.

Salah satunya, Ashlynn, lulusan baru yang tinggal di San Bernardino, California, yang merasakan fenomena tersebut. Ia saat ini bekerja sebagai tutor virtual dan staf di sebuah community college. Sebelumnya, ia bahkan memegang tiga pekerjaan sekaligus.

Ya, meski memiliki gelar sarjana, ia belum berhasil mendapatkan pekerjaan penuh waktu. “Banyak dari kami harus menyusun beberapa pekerjaan agar rasanya hampir seperti satu pekerjaan penuh waktu,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Yahoo Finance, Senin, 19 Januari 2026. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut