Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,07 Persen pada 2025
- Dok. Istimewa
Meski demikian, kondisi pertumbuhan global yang cenderung melemah menunjukkan bahwa tekanan inflasi akan tetap terkendali. Hal ini dinilai dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga kebijakan lebih lanjut, meskipun lebih terbatas dibandingkan 2025, yang berpotensi mendukung sentimen risk-on terhadap aset pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi domestik, menjaga stabilitas politik akan menjadi faktor krusial. Meskipun masih terdapat ruang untuk tambahan stimulus fiskal dan moneter, para pembuat kebijakan perlu menyeimbangkan secara cermat antara dukungan terhadap pertumbuhan dan stabilitas makroekonomi. Risiko yang perlu diwaspadai mencakup potensi pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) di tengah berlanjutnya perang dagang, serta meningkatnya defisit fiskal akibat kebijakan pro-pertumbuhan. Kondisi ini dikenal sebagai risiko pelebaran twin deficit,” kata Faisal.
Secara keseluruhan, tim ekonom Permata Bank memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia berada pada kisaran 5,1-5,2 persen pada 2026. Risiko kenaikan (upside risks) dapat muncul apabila tekanan eksternal mereda secara signifikan, kondisi politik domestik semakin kondusif, serta reformasi struktural berjalan efektif sehingga mampu memperkuat kepercayaan konsumen dan dunia usaha.
Sebaliknya, risiko penurunan (downside risks) berpotensi terjadi apabila pemerintah tidak berhasil menjaga keseimbangan antara agenda pro-pertumbuhan dan upaya mempertahankan stabilitas makroekonomi. (Ant)
