Survei OJK Sebut Bank di Indonesia Masih Tahan Banting di Tengah Gejolak Politik dan Ekonomi Global

Ilustrasi bank.
Sumber :
  • pexels.com/Expect Best

Dari sisi risiko perbankan, mayoritas responden survei menilai kondisi masih terkendali. Hal ini tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 57 yang berada di zona optimis. Penilaian tersebut didorong oleh keyakinan bahwa kualitas kredit masih terjaga serta posisi devisa perbankan yang relatif kuat.

img_title Capai Rp 9.080,9 Triliun, Bos OJK: Kredit Perbankan Tumbuh 12,67% Per Juni 2026

Posisi Devisa Netto (PDN) perbankan tercatat berada pada level rendah dengan aset dan tagihan valuta asing yang lebih besar dibandingkan kewajiban valas atau berada pada posisi long position.

Risiko likuiditas juga dinilai tetap terjaga. Hal ini didukung oleh ekspektasi pertumbuhan alat likuid perbankan serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diperkirakan meningkat. Dengan pertumbuhan DPK yang diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit, net cashflow pada triwulan I-2026 diperkirakan meningkat.

img_title Mengenal Sistem Asuransi Digital di Indonesia, Cara Kerja, Aturan Resmi, hingga Perkembangannya

Selain itu, arus kas masuk (cash inflow) perbankan juga diperkirakan meningkat seiring mulai masuknya dana pemerintah daerah pada awal tahun anggaran.

Ekspektasi terhadap kinerja industri perbankan juga menunjukkan optimisme yang cukup tinggi. Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) tercatat sebesar 67 yang menandakan prospek pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan permintaan kredit serta upaya ekspansi bank melalui pipeline kredit yang tersedia.

img_title BTN Perkuat Kemitraan Strategis dengan Pemprov Dorong Malut Jadi Lokomotif Ekonomi Nasional

Dari sisi sektor ekonomi, industri pengolahan masih menjadi sektor yang paling dominan dalam penyaluran kredit perbankan. Pada Januari 2026, kredit ke sektor ini tumbuh sebesar 6,60 persen secara tahunan (year on year) dan diproyeksikan tetap menjadi motor pertumbuhan kredit ke depan.

Dalam survei tersebut, OJK juga mencatat tingginya perhatian pelaku industri terhadap kondisi global yang berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.

“Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa responden memiliki concern yang besar terhadap kondisi global yang terus berlangsung untuk jangka waktu yang lama (prolonged), dan bahkan memburuk, serta implikasi yang ditimbulkan terhadap kinerja ekonomi Indonesia," ujar Dian sebagaimana dikutip dari siaran pers, Senin, 9 Maret 2026.

"Meskipun berbagai indikator perbankan saat ini dalam posisi yang resilience, perbankan masih sangat membutuhkan ekosistem bisnis yang vibrant untuk dapat tumbuh dengan baik,” sambungnya. 

Selain menilai prospek perbankan, SBPO juga mengumpulkan pandangan responden mengenai outlook ekonomi global dan Indonesia pada 2026. Ekonomi global diperkirakan tumbuh moderat seiring tingginya ketidakpastian dan dinamika geopolitik internasional.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut