Harga Emas Global Amblas Nyaris 10 Persen, Terburuk dalam 15 Tahun

Ilustrasi emas
Sumber :
  • Pixabay

Jakarta, VoxPopHarga emas global menjadi sorotan para investor global saat konflik geopolitik di Timur Tengah terus belanjut. Bukan karena lonjakan drastis, melainkan pergerakan tidak bisa di mana logam mulia ini mengalami penurunan signifikan bahkan terburuk dalam 15 tahun terakhir. 

img_title IHSG Dibuka Menguat Serupa Wall Street Meski Dibayangi Koreksi, Bursa Asia Bergerak Variatif

Mengutip CNBC Internasional, Sabtu, 21 Maret 2026, emas membukukan koreksi sebesar 9,6 persen sepanjang pekan ini. Penurunan ini menandai kerugian mingguan terbesar sejak bulan September 2011. 

Meski demikian, sepanjang 2026 harga emas masih mencatat kenaikan lebih dari 5 persen, mencerminkan reli kuat sebelum konflik di kawasan Teluk Persia memanas. Saat ini, harga emas berada di level US$4.494,1 atau turun 2,36 persen hingga pukul 17.15 waktu New York, data Gold Price.

img_title Zelensky: Gencatan Senjata Lebih Baik Daripada Perang 10 sampai 20 Tahun

Tekanan juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak jatuh lebih dari 2 persen ke US$69,66 per ons, level penutupan terendah sejak Desember. Dalam sepekan, perak telah turun lebih dari 14 persen dan mencatat tiga pekan berturut-turut melemah sementara selama tahun ini terkoreksi lebih dari 1 persen.

Ilustrasi Saham

Photo :
  • Yahoo Financ
img_title Emas vs Perak, Mana yang Layak Dibeli di 2026? Simak Perbandingannya

Alih-alih para pelaku pasar memindahkan dana ke aset lindung nilai (safe haven), emas justru menghadapi tekanan lantaran meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari perang Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Gejolak pasar energi turut memperparah sentimen investor global. Harga minyak dunia melonjak hingga menembus US$112 per barel, memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan. Kondisi ini berdampak luas, mulai dari pasar komoditas hingga bursa saham global.

Indeks saham utama Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite bahkan mendekati koreksi 10 persen dari posisi tertingginya, menandakan tekanan besar di bursa AS, Wall Street.

“Pergerakan itu sekarang hampir sepenuhnya terurai dan bahkan turun cukup dalam. Banyak dari ini adalah transaksi berbasis momentum yang kini berbalik arah,” ujar Analis logam dan pertambangan dari SP Angel, Arthur Parish.

Ia menambahkan, lonjakan harga emas sebelumnya didorong oleh masuknya investor ritel dan hedge fund yang memanfaatkan tren kenaikan. Namun, dana tersebut kini mulai keluar dari pasar.

“Dana itu tidak terikat pada posisi jangka panjang di emas. Mereka mulai keluar, dan ini mungkin justru diperlukan agar emas bisa naik lagi di fase berikutnya,” jelas Parish.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut