IMF Peringatkan Resesi Global di Depan Mata, Negara Berkembang Paling Terpukul!

Ilustrasi resesi ekonomi/ekonomi global
Sumber :
  • Unsplash

Dampak perang ini diprediksi lebih berat bagi negara berkembang dan berpenghasilan rendah. Negara-negara tersebut tidak hanya menghadapi tekanan harga, tetapi juga keterbatasan fiskal untuk merespons krisis. Sementara itu, negara pengekspor energi di kawasan Teluk Persia juga terdampak akibat kerusakan infrastruktur dan gangguan ekspor.

img_title Purbaya Girang RI Dianggap sebagai 'Bright Spot' Perekonomian Global oleh IMF

Di sisi lain, negara maju seperti Amerika Serikat diperkirakan masih mampu bertahan, meski tetap terkena dampaknya. IMF memproyeksikan ekonomi AS tumbuh 2,3 persen pada 2026, naik dari 2,1 persen pada 2025, tetapi lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,4 persen.

Salah satu dampak paling nyata di Amerika Serikat adalah kenaikan harga bahan bakar. Rata-rata harga bensin nasional mencapai US$4,11 per galon atau setara Rp69.870, yang mulai menekan daya beli konsumen.

img_title Rupiah Menguat ke 17.126, IMF Ingatkan RI Jaga Belanja di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Timur Tengah

Menariknya, di tengah situasi ini, Rusia justru diperkirakan menjadi pihak yang diuntungkan. IMF memproyeksikan ekonomi Rusia tumbuh 1,1 persen pada 2026, naik dari 1 persen pada 2025. Kenaikan harga minyak serta pelonggaran sementara sanksi terhadap penjualan minyak Rusia menjadi faktor pendorong.

Mata uang Rupiah.

Rupiah Makin Melemah ke Rp 18.104 Meski Pasar Respons Positif Proyeksi IMF & ADB soal Pertumbuhan Ekonomi RI 2026

Hingga pukul 09.04 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 18.104 per dolar AS. Posisi itu melemah 39 poin atau 0,22 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 18.065 per dolar AS

img_title
VoxPop.co.id
13 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut