Panas! Iran Sita Kapal di Selat Hormuz Saat Trump Batalkan Serangan, Harga Minyak Melejit

Kapal-kapal tertahan di Selat Hormuz
Sumber :
  • Reuters

VoxPop –  Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Langkah ini terjadi tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan menunda rencana serangan lanjutan terhadap Iran di tengah belum jelasnya kelanjutan gencatan senjata.

img_title Turki Mau Bangun Jalur Baru Kurangi Ketergantungan Terhadap Selat Hormuz, Pakai Kereta Api

Langkah Iran dinilai sebagai sinyal tegas bahwa konflik belum benar-benar mereda. Pasalnya, meski Trump menyatakan penangguhan serangan untuk membuka peluang dialog, pihak Teheran justru belum memberikan tanda setuju terhadap perpanjangan gencatan senjata, seperti dilansir Reuters.

Di tengah ketidakpastian itu, pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps dilaporkan menyita dua kapal asing yang melintas di Selat Hormuz. Kedua kapal tersebut dituduh melanggar aturan pelayaran, termasuk memanipulasi sistem navigasi.

img_title Hamas Respons Pernyataan Trump: Tidak Ada Pelucutan Senjata Sebelum Israel Mundur dari Gaza

Seorang pejabat Iran menyatakan, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz mustahil dilakukan selama blokade laut oleh Amerika Serikat masih berlangsung. Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa gencatan senjata hanya masuk akal jika tekanan militer benar-benar dihentikan.

“Kalian tidak mencapai tujuan melalui agresi militer, dan tidak akan berhasil lewat tekanan. Satu-satunya jalan adalah mengakui hak rakyat Iran,” ujarnya dalam pernyataan yang diterjemahkan dari media sosial.

img_title Donald Trump Rilis Pernyataan Lengkap soal Klaim Hamas Sepakat Lucuti Senjata, Israel Masih Bungkam

Sementara itu, situasi di Washington juga mengalami dinamika. Pemerintahan Trump melakukan perombakan internal dengan mencopot Menteri Angkatan Laut, John Phelan, tanpa penjelasan resmi. Keputusan tersebut memperkuat kesan bahwa kebijakan militer AS terhadap Iran masih belum stabil.

Meski Trump sempat melontarkan ancaman untuk menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik, langkah itu kini ditahan. Namun, ancaman konflik tetap membayangi karena belum ada kesepakatan konkret antara kedua pihak.

Konflik yang dimulai sejak akhir Februari itu telah menewaskan ribuan orang di kawasan Timur Tengah, terutama di Iran dan Lebanon. Kelompok Hezbollah yang didukung Iran juga ikut terlibat dalam pertempuran melawan Israel, memperluas eskalasi konflik.

Di sisi lain, militer AS terus memperketat blokade laut terhadap Iran. Lebih dari 30 kapal disebut telah diminta untuk berbalik arah, sementara beberapa tanker Iran di kawasan Asia juga dicegat dan dialihkan dari rute semula.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut