Apa Itu Doomjobbing? Fenomena Baru yang Melilit Para Pencari Kerja di Era AI
Jakarta, VoxPop – Istilah doomjobbing kini mulai ramai dibicarakan sebagai fenomena baru di dunia kerja 2026. Jika doomscrolling dikenal sebagai kebiasaan terus-menerus menggulir media sosial sambil menyerap kabar buruk, maka doomjobbing adalah versi kariernya. Bagaimana maksudnya?
Fenomena tersebut banyak dialami oleh pencari kerja yang sedang menganggur maupun pekerja yang ingin keluar dari posisi saat ini karena merasa tidak lagi cocok. Mereka terus melamar pekerjaan, memantau situs lowongan, memperbarui CV, namun tetap merasa tidak benar-benar bergerak maju.
Dalam pasar kerja 2026 yang semakin kompetitif akibat disrupsi AI, proses rekrutmen yang lebih ketat, serta persaingan yang makin tinggi, membuat doomjobbing menjadi semacam epidemi yang diam-diam menguras energi.
Alih-alih membawa kemajuan, aktivitas tersebut justru menciptakan ilusi produktif.
Apa Itu Doomjobbing?
Melansir dari Forbes, Selasa, 28 April 2026, doomjobbing tidak selalu terlihat pasif. Bahkan, seringkali justru tampak sangat sibuk, seperti:
- Mengirim puluhan lamaran kerja tanpa strategi jelas
- Bertahan di pekerjaan yang diperkirakan akan stagnan atau hilang
- Terus memeriksa situs lowongan tanpa memperbaiki pendekatan
- Merasa sibuk, tetapi tidak benar-benar berkembang
“Doomjobbing adalah cara yang sangat tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi ketika kecemasan mengambil alih proses pencarian kerja. Setelah terkena PHK, wajar jika seseorang merasa sangat mendesak untuk segera mendapatkan pekerjaan. Namun ketika rasa mendesak itu berubah menjadi aktivitas tanpa henti, hal tersebut sering kali hanya menciptakan ilusi kemajuan tanpa benar-benar meningkatkan hasil,” ungkap Direktur Talenta di Avature, Dan Kejsefman, sebagaimana dikutip Forbes.
Wakil Presiden Workforce and Community Education di National University, Joe Patterson, menyebut kondisi pasar kerja saat ini menjadi pemicu utama munculnya fenomena ini. “Pencari kerja saat ini berada dalam situasi yang sulit. Peluang kerja semakin sedikit dan persaingan semakin tinggi, sehingga proses mencari pekerjaan terasa jauh lebih menakutkan.”
Saat ini, bahkan posisi entry-level pun sering menuntut pengalaman bertahun-tahun atau keterampilan khusus yang sulit diperoleh hanya dari magang. Di saat yang sama, proses perekrutan juga semakin otomatis.
Akibatnya, banyak pelamar masuk dalam siklus yang melelahkan, mulai dari melamar kerja secara massal, tersaring sistem otomatis, ditolak berulang kali, lalu kehilangan kepercayaan diri.
Salah satu kesalahan terbesar dalam doomjobbing adalah anggapan bahwa semakin banyak melamar, semakin besar peluang diterima. Padahal, pendekatan tersebut justru sering kontraproduktif.
“Yang biasanya bekerja lebih baik dalam praktik adalah menghadirkan struktur dan tujuan yang jelas dalam proses tersebut. Artinya, memperlakukan pencarian kerja sebagai sebuah proses, bukan reaksi tanpa henti selama 24 jam: menetapkan batas waktu yang jelas, lebih selektif dalam memilih tempat melamar, dan meluangkan waktu untuk membangun positioning diri, bukan hanya mengejar jumlah lamaran.”
Dampak Tersembunyi Doomjobbing
Meski terlihat produktif, doomjobbing perlahan bisa merusak daya saing profesional seseorang, seperti:
- Keterampilan stagnan karena tidak mengikuti kebutuhan pasar
- Jaringan profesional melemah karena minim interaksi
- Rasa percaya diri menurun akibat penolakan berulang
- Kehilangan peluang karena tidak membangun posisi yang tepat
Cara Keluar dari Doomjobbing
Patterson menekankan bahwa solusi dari doomjobbing bukan bekerja lebih keras, melainkan bekerja lebih cerdas. “Memiliki portofolio keterampilan yang kuat dan sesuai kebutuhan pasar dapat menjadi penentu utama peluang seorang pencari kerja.”
Ia menyarankan agar waktu yang biasanya habis untuk melamar tanpa arah dialihkan untuk memahami kebutuhan industri dan keterampilan yang sedang dicari perusahaan.
“Menggantikan waktu yang dihabiskan untuk doomjobbing tanpa arah dengan waktu untuk meneliti kebutuhan tenaga kerja, keterampilan utama yang dibutuhkan industri, dan kesenjangan talenta dapat membantu membentuk profil kandidat yang lebih menarik, sekaligus menghasilkan pencarian kerja yang lebih terarah dan efektif.”
Selain itu, memperluas jaringan profesional, memperbarui kemampuan wawancara, memperbaiki resume, hingga memanfaatkan teknologi AI untuk membantu strategi pencarian kerja juga menjadi langkah penting.
