Geger! UEA Tinggalkan OPEC, Arab Saudi Pikul Beban Berat Jaga Stabilitas Harga Minyak

Logo OPEC.
Sumber :
  • www.britannica.com

Jakarta, VoxPop – Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari keanggotaan Organisasi Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) dan aliansi OPEC+. Keputudan ini mengejutkan pasar energi global serta pukulan besar bagi kartel minyak dunia, terutama di tengah gejolak geopolitik dan krisis energi yang masih berlangsung.

img_title Timur Tengah Memanas! Drone dari Irak Hantam Arab Saudi, PM Ali Al Zaidi Minta Investigasi

Pemerintah UEA menyatakan keputusan ini diambil untuk fokus pada kepentingan nasional serta strategi jangka panjang sektor energi. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada Jumat, 1 Mei 2026.

“Selama masa bakti kami di organisasi ini, kami telah memberikan kontribusi yang signifikan dan pengorbanan yang lebih besar lagi demi kepentingan semua. Namun, sekarang saatnya untuk memfokuskan upaya kami pada apa yang dituntut oleh kepentingan nasional kita," tutur Pemerintah UEA dalam keterengan tertulisnya dikutip dari Al Jazeera pada Rabu, 29 April 2026.

img_title Purbaya Jamin Harga BBM Subsidi Tak Naik Meski Harga Minyak Dunia Melonjak

Keluarnya UEA berpotensi mengganggu soliditas OPEC yang selama ini berupaya menjaga kesatuan di tengah perbedaan kepentingan antarnegara anggota, mulai dari isu geopolitik hingga kuota produksi. Pasalnya, negara ini merupakan salah satu anggota lama dengan kapasitas produksi minyak terbesar.

Ilustrasi minyak dunia.

Photo :
  • Freepik
img_title Ruang Fiskal Terdampak Lonjakan Harga Minyak Dunia, Purbaya Jamin APBN Terjaga

Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, menegaskan langkah keluar dari OPEC diambil setelah mempertimbangkan arah kebijakan energi saat ini dan masa depan. Ia menekankan keputusan ini murni dari pihaknya dan tidak ada konsultasi maupun intervensi dari negara mana pun.

“Ini adalah keputusan kebijakan yang diambil setelah kajian mendalam terhadap strategi produksi saat ini dan ke depan,” kata Suhail Mohamed al-Mazrouei.

Di saat yang sama, negara-negara produsen di kawasan Teluk menghadapi tantangan distribusi akibat gangguan di Selat Hormuz. Ancaman keamanan terhadap kapal tanker membuat pengiriman energi menjadi tidak optimal.

Firma riset energi Rystad Energy menilai keluarnya UEA akan mengurangi kemampuan OPEC dalam menjaga stabilitas harga minyak global. Organisasi produsen ini juga kehilangan anggota kunci. 

“Kehilangan anggota dengan kapasitas produksi 4,8 juta barel per hari, serta ambisi untuk meningkatkan produksi, jelas mengurangi alat penting yang dimiliki kelompok ini,” ujar Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon.

Kondisi ini membuat beban menjaga stabilitas harga minyak kini lebih banyak bertumpu pada Arab Saudi. Ia menambahkan, pasar kehilangan salah satu “peredam kejut” penting dalam menghadapi gejolak pasokan. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut