Bos Chevron Peringatkan Soal Kelangkaan Minyak Global, Sebut Asia Paling Terdampak

Ilustrasi Chevron
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VoxPop – Krisis energi global kembali menjadi sorotan di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Penutupan jalur vital distribusi minyak dunia, Selat Hormuz, disebut-sebut akan memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global. 

img_title Turki Mau Bangun Jalur Baru Kurangi Ketergantungan Terhadap Selat Hormuz, Pakai Kereta Api

Kondisi ini bahkan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, hingga memicu krisis seperti yang pernah terjadi pada dekade 1970-an.

Situasi tersebut mendapat perhatian serius dari pelaku industri energi global. Salah satunya datang dari perusahaan minyak raksasa asal Amerika Serikat, Chevron

img_title Harga Minyak Dunia Turun usai Melonjak Imbas Konflik AS-Iran, Pasar Mulai Hitung Ulang Risiko Timur Tengah

Pimpinan perusahaan itu memperingatkan bahwa dampak dari penutupan Selat Hormuz tidak hanya bersifat sementara, melainkan dapat memicu kelangkaan minyak secara fisik di berbagai belahan dunia.

Chairman dan CEO Chevron, Mike Wirth, menyampaikan pandangannya dalam sebuah diskusi. Ia menegaskan bahwa situasi saat ini sangat serius, terutama karena sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global melewati jalur tersebut.

img_title Kemenhub Kawal Kepulangan ABK RI yang Kapalnya Kena Serangan Misil di Selat Hormuz

"Kita akan mulai melihat kelangkaan fisik," kata Wirth, sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa, 5 Mei 2026.

Menurut Wirth, cadangan minyak yang sebelumnya menjadi penyangga kini mulai terkuras untuk memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini membuat keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi terganggu secara signifikan.

"Permintaan harus menyesuaikan dengan pasokan," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penyesuaian permintaan terhadap pasokan yang terbatas akan berdampak langsung pada perlambatan ekonomi global. Kawasan Asia disebut sebagai wilayah pertama yang akan merasakan dampak paling besar, mengingat ketergantungannya terhadap minyak dari kawasan Teluk.

Setelah Asia, Eropa diperkirakan akan menjadi kawasan berikutnya yang terdampak. Sementara itu, Amerika Serikat dinilai relatif lebih tahan karena merupakan eksportir bersih minyak mentah. 

Meski demikian, Wirth menegaskan bahwa dampak tersebut tetap akan terasa secara bertahap. Sebagai gambaran, ia menyebut bahwa pengiriman minyak terakhir dari kawasan Teluk saat ini sedang dibongkar di Pelabuhan Long Beach, yang memasok kebutuhan energi untuk Los Angeles dan wilayah California Selatan.

Wirth juga mengingatkan bahwa dampak dari penutupan Selat Hormuz bisa sangat besar, bahkan sebanding dengan krisis energi pada tahun 1970-an. "Dampak keseluruhan dari penutupan Hormuz berpotensi sebesar yang terjadi pada tahun 1970-an," kata Wirth. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut