Survei Sebut 65 Persen Pekerja Menolak Penggunaan AI, Masalah Lingkungan hingga Moral Jadi Alasan

Ilustrasi kerja di kantor
Sumber :
  • Pixabay

Jakarta, VoxPop – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin meluas di dunia kerja. Namun di balik tren tersebut, banyak pekerja ternyata masih merasa ragu bahkan sengaja menghindari teknologi AI karena berbagai alasan.

img_title 10 Keunggulan Aplikasi AI dalam Dunia Kerja, Dari Menyusun Strategi hingga Membantu Pengambilan Keputusan Lebih Cepat

Survei terbaru CNBC bersama SurveyMonkey mengungkap hampir dua pertiga pekerja pernah menghindari penggunaan AI karena kekhawatiran soal moral, privasi, lingkungan, hingga akurasi teknologi tersebut.

Survei yang dilakukan pada 17-21 April 2026 itu melibatkan 3.597 responden di Amerika Serikat, terdiri dari 3.365 pekerja dan 232 mahasiswa. Hasilnya, sebanyak 65 persen pekerja mengaku pernah menghindari penggunaan AI setidaknya sekali karena berbagai kekhawatiran terkait teknologi tersebut.

img_title Analisis Mendalam Aplikasi AI 2026, Teknologi yang Sedang Mengubah Cara Dunia Bekerja Lebih Cepat dari Perkiraan

Alasan lingkungan menjadi salah satu perhatian utama, terutama di kalangan mahasiswa. Sebanyak 36 persen mahasiswa mengatakan mereka menghindari AI karena dampak lingkungan, dibandingkan 19 persen pekerja.

"Pusat data AI memiliki dampak besar terhadap penggunaan air, lahan, konsumsi energi, hingga menghasilkan limbah panas dalam jumlah besar," demikian sebagaimana dikutip dari CNBC, Jumat, 15 Mei 2026.

img_title Membandingkan ChatGPT, Google Gemini, Claude, Copilot, dan Perplexity, AI Mana yang Paling Unggul untuk Kebutuhan Harian

Selain itu, 36 persen mahasiswa juga mengaku menghindari AI karena alasan moral dan etika. Angka itu lebih tinggi dibanding pekerja yang mencapai 28 persen.

Pendiri organisasi kebijakan AI Encode AI, Sneha Revanur, mengatakan sebagian generasi muda khawatir AI dapat mencuri karya manusia dan mengurangi kreativitas. “Ada banyak penolakan yang sepenuhnya masuk akal terhadap penggunaan AI,” kata Revanur.

Ia menilai sebagian anak muda juga khawatir AI akan mengganggu kemampuan berpikir kritis manusia. “Mereka khawatir tentang apa artinya bagi kemampuan berpikir kritis dan kreativitas, atau memandangnya sebagai serangan terhadap sisi kemanusiaan,” ujarnya.

Dalam praktik sehari-hari, banyak responden juga menilai AI belum cukup akurat atau belum benar-benar membantu pekerjaan. Sebanyak 37 persen mahasiswa dan 26 persen pekerja mengaku menghindari AI karena alasan tersebut.

Sejumlah pakar sebelumnya juga menilai penggunaan AI terkadang justru menambah pekerjaan dan memicu kelelahan mental atau brain fry.

Sementara itu, kekhawatiran soal privasi muncul hampir merata. Sebanyak 37 persen mahasiswa dan pekerja sama-sama menyebut isu privasi sebagai alasan mereka menghindari AI.

Ada pula responden yang merasa AI terlalu sulit dipelajari. Sebanyak 6 persen mahasiswa dan 8 persen pekerja mengaku enggan menggunakan AI karena faktor tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut