Rupiah Tetap Dibuka Melemah di Rp 17.988 Meski BI Laporkan Naiknya Cadangan Devisa Juni 2026

Rupiah melemah terhadap dolar AS.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU/aa

Jakarta, VoxPop – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.

img_title PGS BI Destry Beberkan Strategi Hadapi Era Suku Bunga Tinggi di Dunia

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.988 pada Selasa, 7 Juli 2026. Posisi rupiah itu menguat 11 poin dari kurs sebelumnya di level 17.999 pada perdagangan Senin, 6 Juli 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 8 Juli 2026 hingga pukul 09.03 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.988 per dolar AS. Posisi itu melemah 8 poin atau 0,04 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.980 per dolar AS.

img_title Ekonom Sebut Serangan AS ke Iran Masih Jadi Sentimen Bagi Harga Minyak & Pergerakan Rupiah

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Photo :
  • Pixabay/IqbalStock

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah dipicu data cadangan devisa (cadev) yang meningkat pada akhir Juni 2026.

img_title Destry Pastikan BI Tak Kendor Jaga Stabilitas, Ini yang Jadi Prioritas

“Rupiah menguat merespons data cadev yang naik untuk pertama kali dalam 6 bulan,” kata Lukman, dikutip Rabu, 8 Juli 2026.

Bank Indonesia (BI) melaporkan, posisi cadev Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat mencapai US$145,6 miliar, naik tipis sebesar US$700 juta dari posisi akhir Mei 2026 yang sebesar US$144,9 miliar.

"Perkembangan posisi cadangan devisa pada Juni 2026 itu terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa," ujar Leong.

Di sisi lain, perkembangan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Namun, menurutnya para investor cenderung masih wait and see guna mengantisipasi beberapa data ekonomi domestik ke depan (Rabu dan Kamis), yaitu penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen.

"Indeks dolar AS sendiri terpantau range-bound, dengan investor wait and see menantikan risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC)," ujarnya.

Plt Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.

BI Disebut Tak Fokus Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Destry: Salah itu, Kami Tetap Konsen

Pejabat Gubernur Sementara, Destry Damayanti menegaskan BI tidak hanya berfokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi tanpa memperhatikan pertumbuhan ekonomi.

img_title
VoxPop.co.id
31 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut