Pendapatan United Tractors Turun Jadi Rp58,3 Triliun di Semester I 2026, Laba Bersih Anjlok 48 Persen
- Dok. United Tractors
Posisi Utang Berubah Usai Akuisisi dan Buyback Saham
Per 30 Juni 2026, United Tractors mencatat posisi utang bersih sebesar Rp9,4 triliun dengan rasio gearing mencapai 8,5 persen.
Angka tersebut berbalik dari posisi akhir tahun 2025, ketika perseroan masih memiliki kas bersih sebesar Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025.
Menurut Ari Setiyawan, perubahan struktur keuangan tersebut terutama dipengaruhi oleh aksi korporasi yang dilakukan perusahaan selama semester pertama.
"Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham," katanya.
Penjualan Alat Berat Komatsu Ikut Melemah
Kinerja segmen alat berat juga mengalami tekanan sepanjang semester I 2026.
Pendapatan bersih dari segmen ini tercatat sebesar Rp15 triliun atau turun 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut sejalan dengan melemahnya penjualan alat berat Komatsu yang turun 27 persen menjadi 1.994 unit.
Perseroan menjelaskan, penurunan terbesar terjadi pada penjualan kategori big machine untuk sektor pertambangan yang merosot 55 persen menjadi 325 unit.
Kondisi tersebut kembali dipengaruhi oleh lebih rendahnya alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026 yang berdampak pada permintaan alat berat dari sektor pertambangan.
Pendapatan Jasa Purnajual Masih Bertumbuh
Di tengah tekanan pada penjualan alat berat, United Tractors masih mencatatkan pertumbuhan pada lini bisnis jasa purnajual.
Pendapatan dari penjualan suku cadang dan layanan pemeliharaan alat berat meningkat tipis menjadi Rp5,5 triliun pada semester I 2026.
Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,4 triliun.
Kenaikan pada bisnis layanan purnajual ini menjadi salah satu penopang kinerja perseroan di tengah penurunan penjualan alat berat dan melemahnya kontribusi dari bisnis pertambangan.
Secara keseluruhan, sepanjang semester I 2026 United Tractors menghadapi tekanan dari sejumlah lini usaha utama, mulai dari penurunan penjualan emas akibat penghentian sementara operasional Tambang Martabe, melemahnya penjualan alat berat karena alokasi RKAB batu bara yang lebih rendah, hingga penurunan laba bersih.
Di sisi lain, perseroan masih memperoleh dukungan dari peningkatan pendapatan sektor kontraktor penambangan yang ditopang penguatan kurs dolar AS serta pertumbuhan pendapatan dari bisnis suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat. (Ant)
